Ceritaku sebagai Mahasiswa Universitas Brawijaya (#2): Tahun Akhir - Magang
How does it feel like to be student of the last year?
![]() |
| unsplash.com/Studio Republic |
Hai, teman-teman semuanya. Kali ini aku mau bercerita mengenai bagaimana kehidupanku sebagai mahasiswa semester akhir. FYI, aku kuliah di Universitas Brawijaya, Malang dengan program studi Bisnis Internasional. So let's get into it!
Memasuki tahun ke-empat masa kuliah S1 di Indonesia, merupakan masa-masa (bisa dikatakan) terberat dalam kehidupan sejarah mahasiswa (lebay!!! :D). Liburan semester 6 biasanya merupakan masa dimana para mahasiswa beramai-ramai melaksanakan kegiatan magang atau KKN. Kalau di fakultasku, Fakultas Ilmu Administrasi, kami menyebutnya magang. Semasa zamanku, periode magang dibatasi minimal 2 bulan, kalaupun perusahaan atau instansi tempat magang hanya menerima periode 1 bulan saja atau kurang dari 2 bulan, maka mahasiswa harus melampirkan surat pernyataan atau surat penerimaan magang dari perusahaan tersebut yang mencantumkan periode magang.
Well, sepertinya perjalananku melewati semester akhir penuh dengan rintangan dan dedurian. Disaat teman-temanku sudah pasti mendapatkan tempat magang, aku dan kedua temanku belum mendapatkan kepastian dari proposal yang kami apply. It took so long. Dan kami pun ditolak.
Ketika kami mendengar ada kabar baik bahwa salah dari temanku, bahwa teman Ayahnya bekerja di perusahaan yang berada di kota tempat tinggal temanku tersebut. Kami bertiga pun menaruh harapan besar pada kesempatan kali ini. Hingga datang berita buruk dari temanku tersebut bahwa perusahaan teman Ayahnya hanya menerima satu orang pemagang, itu artinya hanya temanku itu seorang. Kami bertiga pun gundah gulana dikamar kost, merundingkan solusi terbaik untuk mengatasi kegilaan ini. Hal tersebut berarti kami harus berpisah. Aku menyadari bahwa saat itu aku masih condong ke ego yang besar, disisi lain jika kesempatan tersebut tidak diambil, maka sama saja kami membuang-buang waktu dan kesempatan. Akhirnya setelah perundingan yang berbelit-berbelit diliputi dengan kediaman dan berbagai pikiran nan keluh kesah berkecamuk didalam pikiran masing-masing, aku dan salah satu temanku merelakan temanku tersebut untuk mengambil kesempatan magang tersebut. Dan tersisa aku dan temanku, berdua, sebut saja R.
Seperginya temanku tersebut, aku dan R menyingsingkan lengan untuk menyusun strategi terbaik demi mendapatkan tempat magang. Kami mencoba perusahaan di NTB dan sebagian besar di Jakarta. Dengan kesabaran tingkat tinggi kami mengirim email untuk menanyakan perihal magang, kami juga menelpon kontak perusahaan. Proposal magang dan surat application kami kirimkan ke berbagai perusahaan yang merespon terhadap minat magang kami. Itu adalah perjuangan ketika hampir mendekati bulan puasa atau masa liburan, sekitar bulan Juni 2016. Setelah liburan Hari Raya usai, kami memfollow-up kiriman aplikasi kita ke masing-masing perusahaan melalui telepon, dikarenakan ada beberapa email yang tidak kunjung dibalas. Dari hasil follow-up tersebut ada yang menyuruh kita untuk menunggu beberapa hari lagi, 1 minggu lagi, menghubungi bagian blablabla di nomor blablabla, dll. Selama sebulan di bulan Agustus kami benar-benar berusaha untuk mendapatkan tempat magang. Itulah tekanan bagiku melihat teman-teman lainnya yang sudah mulai melaksanakan magang dari bulan Juli.
Memasuki bulan Agustus, temanku si R memberitahukan bahwa teman Ayahnya memiliki relasi yang dapat menghubungkan kita untuk magang di sebuah salah satu jaringan hotel di Bali, tepatnya di Ubud. Well, a lil' bit excited yet worried. Berhubung kita dari prodi Bisnis Internasional, kita sedikit khawatir mengenai area magang kita. I mean, kita masih meragukan apakah anak Bisnis Internasional boleh magang di hotel, karena magang di hotel merupakan area anak prodi Pariwisata (yang juga ada di fakultas kami). Kami mencoba bertanya ke kakak senior kami yang berasal dari prodi Pariwisata, sekaligus dia juga membeberkan beberapa pengalamannya dan pengalaman temannya yang magang di hotel di bagian tertentu. Kemudian kami pun mengurus berkas-berkasnya di bagian akademik, dan ternyata bagian akademik tidak mempertanyakan atau mempermasalahkan tempat magang kami. Oke, lanjuttt. Akhirnya setelah pihak hotel setuju, kami memastikan diri melaksanakan magang disana.
Dan kegilaan ini belum usai.
Pihak hotel memberitahukan kami terjadwal mulai magang tanggal 13 September 2016. Kami excited sekali karena akan melaksanakan magang diluar pulau, apalagi di Bali. Seperti yang aku katakan sebelumnya, excited yet worried. Tiga hari sebelumnya kami sudah berada di Ubud, Bali. Kami tetap berkomunikasi dengan pihak hotel, terutama masalah pertemuan untuk memberitahukan beberapa hal mengenai magang kami. Seingatku, dalam 2 kali pertemuan kami membahas mengenai seragam, penempatan magang, dan "hal-hal" lain. Disinilah, pertemuan pertama kami dengan pihak hotel semakin membuncahkan kekhawatiranku selama ini bahkan sebelum berangkat. Alhasil, dan ya.
Hingga tibalah satu hari menjelang hari H magang, sore harinya kami memutuskan untuk membatalkan magang bahkan sebelum kami memulainya. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal yang aku benar-benar minta maaf tidak dapat meceritakannya karena terlalu sensitif.
Setelah kejadian pembatalan tersebut, bebanku sedikit terangkat. Sedikit.
Sungguh, aku merasa tidak enak dengan temanku R, karena harus membatalkan magang ini karena ini menyangkut pula Ayahnya dan relasinya. Aku merasa akulah akar permasalahannya. Sejujurnya, aku sudah menawarkan solusi untuk dirinya menjalani magang di hotel tersebut seorang diri, biarlah nanti aku uruskan masalah berkasnya dikampus dan aku mencari tempat magang sendiri. Namun dia tetap bersikukuh ikut keputusan tersebut.
Sekembalinya ke Malang, kami beristirahat sejenak dari kegilaan ini. Satu hari sesampainya di Malang aku pulang ke kotaku. Tak ada tempat selain rumah untuk bercerita dan merasakan pulihnya semangat dan dorongan dari orang tua.
Selama dirumah, aku tetap berusaha mencari tempat magang dari perusahaan-perusahaan. Bahkan aku sampai menghubungi KBRI Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Thailand demi info penerimaan magang. Aku sempat berfikir untuk melaksanakan magang individu apabila aku memang benar-benar diterima magang disalah satu KBRI tersebut. Semua KBRI yang aku hubungi tersebut memberikan tanggapan positif melalui balasan emailnya. Kebetulan temanku dari FISIP juga diterima magang di KBRI Vietnam, jadi aku berpikir bila periodenya bertepatan sama bisa menjadi teman sesama Indonesia disana. Namun pada akhirnya, aku harus menurunkan egoku.
Hampir 1 bulan lebih berlalu. Temanku memberitahukan aku bahwa teman SMP Ayahnya (kalau tidak salah) memiliki perusahaan distribusi di Solo. Oke, kami mengambil kesempatan ini. Kami sangat berharap sekali karena seakan-akan baterai harapan kami hampir lowbat setelah berbagai kegilaan yang kami lalui. Setelah ini itu, kami pun mengirimkan berkas aplikasi kami ke perusahaan. Kebetulan perusahaan tersebut mudah diajak nego, jadi kami pun diterima dan periode magang kami pun ditetapkan. Pertengahan bulan Desember 2016, magang kami pun dimulai dan berakhir pada pertengahan bulan Februari 2017.
Ujian laporan magang pun usai dengan hasil memuaskan setelah melalui beragam revisi. Hmm, setidaknya beban berkurang. Thank you, God. Kini pikiran kami terfokuskan penuh pada skripsi.
M.




Comments