Trip to Sempu Island (Part 1)
![]() |
| Sempu Island |
1:04 PM
Di kesempatan kali ini aku akan menceritakan mengenai perjalananku bersama teman-teman ke Pulau Sempu. Kalian semua pasti sudah pernah mendengar yang namanya Pulau Sempu. Lokasinya berada di pantai selatan Kabupaten Malang dan secara administratif masuk Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Tak jauh dari Pantai Sendang Biru.
Awalnya aku memang ingin sekali setelah UAS pergi jalan-jalan. Banyak sekali daftar lokasi tujuan yang masuk dipikiranku, antara lain Bromo, Pantai Cina, dan Pantai Clungup. Opsi ke Bromo kali ini gagal dikarenakan sesuatu hal. Salah satu temanku memilih membuka diskusi kecil di group Line. Pada akhirnya terceletuk Pulau Sempu, dengan opsi alternatifnya adalah Pantai Goa Cina. Rencana kita kali ini adalah camping.
Setelah berbasa-basi dengan perundingan ini itu, akhirnya fix ke Sempu. Pada awalnya banyak yang mengiyakan ikut, namun seiring mendekati hari H banyak yang mengundurkan diri karena beberapa ada urusan mendadak. Akhirnya 10 orang yang pasti berangkat, yakni 6 perempuan dan 4 lelaki.
***
H-2. 13/01/15
Hampir saja aku mengundurkan diri untuk ikut ke Sempu karena ada sedikit permasalahan di akademikku. Akhirnya aku tetap on the list.
H-3. 14/01/15
Kita mulai sibuk mempersiapkan ini itu. Mulai dari kendaraan motor untuk berangkat kesana, pinjam perlengkapan camping, memperhitungkan anggaran yang ada dengan pengeluaran yang kita butuhkan, dll.
Kita mulai sibuk mempersiapkan ini itu. Mulai dari kendaraan motor untuk berangkat kesana, pinjam perlengkapan camping, memperhitungkan anggaran yang ada dengan pengeluaran yang kita butuhkan, dll.
DAY 1. 15/01/15
HERE WE GO! Kami sepakat untuk berkumpul di depan Sekber (FIA UB). Sekitar jam 8 aku bangun, kemudian mandi.Kala itu baru pukul 8 aja mendung sudah menghiasi langit. Langit tampak dirundung mendung kelabu dengan rintik-rintik hujan kecil. Setelah memeriksa barang bawaanku ditas ranselku, aku pun berangkat ke kampus. Sampai sana keadaan masih sepi anak-anak belum datang. Hari itu masih terdapat UAS jadi lumayan ada orang dikampus. Aku duduk menunggu didepan sekber sambil menghubungi anak-anak lain agar segera di TKP. Beberapa menit kemudian satu per satu tim kami pun datang. Untung sekber himpunan ada yang membawa kunci. Sembari menunggu yang lain, kami pun masuk ke dalam sekber untuk mempersiapkan barang-barang keperluan. Tak selang lama, personil lain pun datang. Kami mulai berdiskusi ini itu mengenai persediaan makanan.
Kemudian kami mendapat kabar bahwa salah satu personil cewek tidak dapat ikut karena mendadak ada keperluan. Alhasil, personil perempuan pun cuma terdiri dari 5 orang. Kami pun berdiskusi lagi sembari menata persediaan dan perlengkapan. Apalagi saat itu keadaan diluar juga sedang gerimis lumayan deras. Antara naik mobil atau motor. Apabila memakai opsi mobil, kami mempertimbangkan apakah seat-nya cukup untuk kami semua. Pada akhirnya kami pun memutuskan untuk tetap memakai opsi mobil dengan 4 anak dari kami naik motor.
Akhirnya sebagai dari kami naik mobil. Salah satu personil lealki berangkat kekampus dengan menaiki mobil, yang sebenarnya mobil pinjaman dari temannya. Setelah sesi penataan persediaan dan perlengkapan selesai, kami pun memboyong barang bawaan kami menuju mobil, terparkir dilapangan sebelah Hotel UB. Setelah semua siap kami pun melaju berangkat, menuju ke POM bensin terlebih dahulu dan supermarket didaerah Kalpataru untuk membeli sesuatu.
Sekitar pukul 11.20 WIB kami pun memulai perjalanan kami. Hujan tidak terlalu deras mengguyur kota Malang diwaktu yang masih siang ini. Kami yang naik motor pun pada memakai jas hujan. Dengan anak-anak yang naik mobil kami pun berpisah, sepakat bertemu langsung di TKP. Kebetulan salah satu teman kami yang memandu naik motor sudah hafal jalan ke tujuan.
Sepanjang perjalanan sama sekali tidak terasa ngantuk. Dengan asyiknya aku menikmati sepanjang perjalanan. Ketika hujan sudah agak mereda, kami tim motor mampir ke rumah makan untuk beristirahat sembari mengisi perut yang keroncongan berat. Aku memilih menu Rawon sebagai hidanganku. Sedap sekali. Setelah sekitar 15 menit lebih kami beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali. Langit tampak cerah dan matahari bersinar dengan teriknya. Meskipun dilangit terdapat sedikit mendung, namun kami positive thinking saja nantinya tidak turun hujan saat kami di Sempu.
Sekitar pukul 14.25 kami pun akhirnya sampai di Sendang Biru. Tiket masuk dihitung per orang, yaitu Rp 7.500,- . Mobil yang ditumpangi anak-anak lain sudah nangkring disana. Turun dari motor, mataku pun berkeliaran mencari keberadaan mereka. Aku mendengar namaku dipanggil, dan aku lihat mereka sedang makan disuatu warung. Aku menuju tempat mereka dan menaruh tasku didalam emperan warung tersebut. Dua teman perempuanku sedang makan mie goreng 1 piring berdua, sedangkan yang lain makan nasi pecel. Para lelaki entah berkeliaran dimana. Salah satu temanku pergi mengurus perizinan.
Aku dan salah satu temanku kemudian ke toilet untuk berganti celana dan sandal. Setelah balik ke warung, temanku sudah kembali dari pos perizinan dengan membawa banyak kabar yang membuat dompet kita lumayan mendadak terkuras. Biaya perizinan dan biaya perahu naik, ditambah pula setiap pengunjung Sempu harus didampingi oleh guide dan guide juga ikut ngeCamp disana. Biaya guide juga naik. Semuanya sungguh diluar perkiraan kami untuk masalah biaya-biaya ini. Akhirnya kami iuran kembali untuk menutupi kekurangan, uang untuk membeli ikan kami potong. Jadi kami hanya membeli 3 ikan tongkol saja dengan harga kira-kira Rp 13.000,- /kg.
Untuk masalah izin per anak kalau tidak salah Rp 50.000,- (kali-kan saja dengan jumlah kami yang 9 orang), biaya perahu Rp 130.000,- , dan biaya guide Rp 250.000,-. Untuk masalah perizinan kami semua diharuskan menghadap ke kepala perizinan di kantor perizinan yang tempatnya tak jauh dari kami berada. Setelah menghitung uang ini itu, kami pun beberes barang-barang, masing-masing anak membawa tasnya dan barang bawaan lain-lain.
Setelah semua siap, sekitar pukul 15.06 WIB kami pun beranjak berjalan bersama menuju kantor perizinan. Kami semua pun masuk ke ruangan tersebut. Disana kami menemui beberapa pengunjung yang entah akan berangkat atau baru saja sampai. Aku kira mereka baru saja akan berangkat , karena terlihat sepatu mereka yang masih bersih. Didalam ruangan, kami semua duduk sembari mendengarkan ceramah dari si Bapak kepala perizinan. Banyak yang beliau sampaikan kepada kami. Intinya, jangan sampai kita merusak ekosistem yang ada di Sempu. FYI, Sempu merupakan salah satu lingkungan konservasi yang dilindungi sekali keberadaan dan kelestariannya. Selain itu, kita diberitahu pula track yang akan kami hadapi nanti. Aku melihat foto-foto yang terpajang di tembok kantor, tracknya berlumpur sekali dan semakin parah saat musim hujan.
***
Setelah semua siap, sekitar pukul 15.06 WIB kami pun beranjak berjalan bersama menuju kantor perizinan. Kami semua pun masuk ke ruangan tersebut. Disana kami menemui beberapa pengunjung yang entah akan berangkat atau baru saja sampai. Aku kira mereka baru saja akan berangkat , karena terlihat sepatu mereka yang masih bersih. Didalam ruangan, kami semua duduk sembari mendengarkan ceramah dari si Bapak kepala perizinan. Banyak yang beliau sampaikan kepada kami. Intinya, jangan sampai kita merusak ekosistem yang ada di Sempu. FYI, Sempu merupakan salah satu lingkungan konservasi yang dilindungi sekali keberadaan dan kelestariannya. Selain itu, kita diberitahu pula track yang akan kami hadapi nanti. Aku melihat foto-foto yang terpajang di tembok kantor, tracknya berlumpur sekali dan semakin parah saat musim hujan.
Setelah membayarkan biaya perizinan, kami pun keluar dari ruangan. Diluar kantor, kami dinasehati oleh ibu-ibu dan bapak-bapak untuk memakai sepatu anti licin yang mereka sewakan. Biaya sewanya sebesar Rp 10.000,-. Kami sempat merasa bingung mau nyewa atau tidak, mengingat keuangan kami jadi sebisa mungkin berhemat. Ketika itu salah satu temanku memutuskan untuk menyewa sepatu anti licin, kami semua pun mengikutinya kecuali satu orang temanku.
Pemandu kami bernama Pak Tio. Beliau penduduk asli Sendang Biru. Putranya menjadi guide sama seperti dia juga. Berusia kira-kira 50 tahunan keatas, meskipun usia sudah setengah abad lebih si beliau masih tetap tangguh menakhlukan track Sempu. Pernah dalam seminggu beliau melakukan perjalanan 7x ke Sempu untuk nge-guide.
Kemudian kami pun digiring oleh pak Tio menuju perahu. Beberapa menit kami menunggu, kemudian perahu kami pun tersedia.
Setelah semua naik ke perahu, mesin mulai dinyalakan dan perjalanan kami pun dimulai. Aku menikmati pemandangan sepanjang perahu melaju. Debur ombak seakan membelah dan menyibak desiran tiap alunan suara merdunya. Desir angin tak henti-hentinya menerpa diri.
Jangan lupa untuk mencatat nomor telepon pemilik perahu, agar saat kembali dari pulau Sempu dapat kita hubungi untuk menjemput. Perjalanan menaiki perahu tak memakan waktu lama, disebuah belokan dekat rimbunnya tumbuhan bakau dengan akar tunjangnya yang panjang-panjang, dibalik belokan itulah terdapat semacam pinggiran pulau Sempu. Titik pertama sebelum kami mulai tracking. Setelah turun dari kapal, kami menata persiapan sepatu kami, akibatnya banyak air menggenang didalam sepatu kami.
Kami bersembilan mulai dipandu pak Tio. Diawal track masing wajar beceknya, setelah mulai merambah masuk lebih kedalam hutan, bisa dikatakan beceknya parah sekali. Dengan penuh semangat kami mengikuti tiap langkah pak Tio. Terkadang tracknya menanjak, terkadang juga menurun. Terkadang kemiringan track membuat kami harus berpegangan pada batang pohon disekitar kami.
Jangan lupa untuk mencatat nomor telepon pemilik perahu, agar saat kembali dari pulau Sempu dapat kita hubungi untuk menjemput. Perjalanan menaiki perahu tak memakan waktu lama, disebuah belokan dekat rimbunnya tumbuhan bakau dengan akar tunjangnya yang panjang-panjang, dibalik belokan itulah terdapat semacam pinggiran pulau Sempu. Titik pertama sebelum kami mulai tracking. Setelah turun dari kapal, kami menata persiapan sepatu kami, akibatnya banyak air menggenang didalam sepatu kami.
Kami bersembilan mulai dipandu pak Tio. Diawal track masing wajar beceknya, setelah mulai merambah masuk lebih kedalam hutan, bisa dikatakan beceknya parah sekali. Dengan penuh semangat kami mengikuti tiap langkah pak Tio. Terkadang tracknya menanjak, terkadang juga menurun. Terkadang kemiringan track membuat kami harus berpegangan pada batang pohon disekitar kami.
Berkali-kali aku harus menyingsingkan celana panjangku. Warnanya sudah tidak karu-karuan dan belepotan lumbur. Tak jarang tangan in juga salah memegang batang yang berlumpur sehingga menjadi belepotan pula.
Perjalanan kami tak jarang diiiringi dengan suara kicauan burung. Suara gemerisik diatas pohon, dibalik dedaunan, itu adalah para monyet di hutan Sempu. Hal tersebut membuatku sedikit khawatir akan monyet-monyet tersebut yang siapa tahu tiba-tiba muncul dihadapanku. Selain itu, berkali-kali kami bertemu rombongan lain yang juga sedang melakukan perjalanan ke Sempu seperti kami. Ada juga yang sedang perjalanan pulang.
Ketika jam mendekati pukul 5 sore, hutan mulai sedikit gelap. Suara gemerisik gerimis mulai membayangi kami. Aku sendiri khawatir bila sampai turun hujan, aku lupa mengambil jas hujan yang tadi aku pakai dan aku taruh di jok motor. Untunglah hanya gerimis kecil sehingga kekhawatiranku mulai mereda. Sayup-sayup aku mendengar debur ombak. Wahh, kebayangkan rasanya. Kaki sudah mulai lelah, mendengar debur ombak pantai tuh rasanya bagaikan insentif yang diturunkan oleh Tuhan sebagai penyemangat.
Ketika jam mendekati pukul 5 sore, hutan mulai sedikit gelap. Suara gemerisik gerimis mulai membayangi kami. Aku sendiri khawatir bila sampai turun hujan, aku lupa mengambil jas hujan yang tadi aku pakai dan aku taruh di jok motor. Untunglah hanya gerimis kecil sehingga kekhawatiranku mulai mereda. Sayup-sayup aku mendengar debur ombak. Wahh, kebayangkan rasanya. Kaki sudah mulai lelah, mendengar debur ombak pantai tuh rasanya bagaikan insentif yang diturunkan oleh Tuhan sebagai penyemangat.
![]() |
Sampai kami pada sebuah track penuh dengan batu karang-karang. Cukup curam dan sisi sebelah kanan sudah tepat pinggiran pantai. Kami harus fokus terhadap jalan yang kami lalui karena hari semakin gelap. Ketika aku menengok hapeku, sekitar pukul 18.20 WIB. Suara debur ombak semakin menambah semangatku. Didepanku ada seorang teman perempuanku dan dibelakang personil lainnya menyusul.
........................................
Baca kelanjutan ceritanya di Trip to Sempu Island Part 2.







Comments