Kisahku Bersama Teman-teman Kampus (Part 1)
9:56 AM
Kepengurusan Himpunan jurusan periode 2014 telah usai. Telah resmi demisioner sejak tanggal 13 Desember 2014. Meskipun sudah sah dan resmi demisioner namun aku masih menjabat sebagai panitia independen yang mengurusi kepergantian pengurus lama ke pengurus baru, seperti pemilu Cakahim, Deklarasi Kahim Baru, LPJ-an, pengadaan acara pembahasan RUU Himpunan, AD/ART, dan lain-lainnya.
Awalnya aku tak menyangka kenapa bisa aku dimasukkan ke dalam kepanitiaan ini. Yang aku ingat adalah, saat itu akhir berakhir liburan panjang. Aku sudah di Malang. Mood menjadi baik, tapi malah kacau balau. Aku lupa entah karena kenapa. Yang jelas intinya saat itu aku sedang tidak mood beraktifitas kepanitiaan. Dan tiba-tiba aku mendapatkan sms dari teman se-Himpunan, bahwa aku masuk ke ‘suatu kepanitian’ dan dia meminta maaf karena memberitahu dadakan. Plus sorenya jam 7 malam diadakan rapat perdana.
Pikirku, apalagi yang mereka lakukan padaku dengan menempatkan aku di suatu kepanitiaan. Pada saat itu mood-ku sedang berantakan sekali. Sangat berantakan. Tapi aku tetap datang ke rapat yang sudah diberitahukan padaku. Pukul 7 aku datang ke kampus, langsung ke Sekber (Sekretariat Bersama). Di sana sudah ada orang-orang. Yiah, orang-orang khusus menurut sepengelihatanku. Ada Leony, Rani, Sarah, Ibnu, Yoga, Christ, dan mas Sutan. Mereka menyambutku dengan suka cita. Memanggilku dengan riang. Mereka sudah tahu bahwa aku adalah type orang moody-an. So, aku yakin mereka berusaha menempatkan diri sebaik mungkin ketika berada disekelilingku.
Next. Mereka kemudian memutuskan untuk rapat diluar Sekber. Awalnya di basement, karena terlalu bising akhirnya kami pindah didepan pintu masuk gedung A. Kalau sudah malam, pintu tersebut tertutup. Sebelum kami pindah ke tempat tersebut, Yoga, (I realize, ini pertama kalinya aku bekerja satu kepanitian dengan dia. Aku tak terlalu tahu dia dulu-dulunya. Yang aku tahu dia itu jarang terlibat satu pekerjaan dengan aku, meskipun kami satu pengurus Himpunan), dia memberitahuku bahwa aku menjadi coordinator divisi PDD (Publikasi, Dekorasi dan Desain). Aku tak tahu mengapa mereka memasukkan aku kedalam divisi tersebut. Berasa ditempatkan di tempat yang salah ketika rasanya bad mood-ku mengganggu Aku tetap mengikuti alur mereka. Hingga mereka mengatakan padaku bahwa ini adalah kepanitian yang akan menangani pergantian Kahim lama ke Kahim baru dan sederet hal berkaitan lainnya.
Yoga sendiri menjabat sebagai Sekretaris Pelaksana (Aku baru tahu di masa akhir-akhir kepengurusan bahwa dia kuliah dua jurusan sekaligus di beda fakultas, yakni fakultas hukum. Itu kunci pertama yang aku ketahui tentang dia saat itu. Pantaslah kalau dia dijadikan Sekpel dikepanitiaan ini, yang menurutku sarat dengan politik kampus, pembahasan pasal-pasal RUU, AD/ART, dan hal-hal lain yang terkadang memerlukan redaksional, frasa baru, dan sederet istilah lainnya didalam kamus anak Hukum.
Ibnu menjabat sebagai Ketua Pelaksana (Dia dulunya pernah menjabat sebagai Kapel juga di Kuliah Tamu 2013 saat kami masih maba. Dia identik dengan tingkah lakunya yang menurutku agak ‘retro’. Haha. Sisi lainnya, dia memiliki sifat kepemimpinan terpendam. Aku pikir dia bukan tipe pemikir yang sarat dengan objection/option disetiap rapat, menurutku dia lebih ke tipe pekerja. Selama masa kepengurusan sendiri, dia bahkan sering terlibat dalam divisi Transperkom yang mengurusi Transportasi, Perlengkapan, dan Konsumsi. Tapi sepertinya dia lebih spesialisasi ke Perlengkapan. Sepertinya dia sudah ahli kalau sama yang namanya urusan Perlengkapan. Bahkan kalau semisal nih ya ada anak lain yang lagi kebingungan ngurusin Perlengkapan, dia menjadi tujuan utama dalam hal konsultasi atau sekedar tanya-tanya ‘dimana sewa tenda, sewa HT, sewa kursi, dll. See? But, dia worth-it lah kalau jadi pemimpin).
Selanjutnya adalah Sarah. Dia menjabat sebagai Bendahara Pelaksana (Jangan ditanya lagi masalah itung-itungan duit, dia jagonya. Bahkan dia bisa membuat anggaran dana proposal yang menurutku sebegitu rumitnya, dia dengan mudahnya menghitung sambil mengotak-atik kalkulatornya. Aku jarang melihatnya mengeluh. Btw, dia adalah orang Solo. Dia ngomongnya sabar, tidak pernah gemerisik kayak aku yang terkadang bikin orang bertanya 2 kali untuk mengerti. You know, dialah orang yang sering aku jadiin tempat curhat. Aku sering bercerita padanya mengenai apa yang sering membuat moody-ku kumat. But after all, dia orang baik bagiku semenjak aku kuliah.
Next. Leony. Dia menjabat sebagai Koordinator Divisi Kestari (Kesekretariatan). Dia pernah mengatakan padaku, bahwa dikepanitiaan inilah dia baru pertama kali menjabat sebagai Kestari. Sebelumnya dia tak pernah menjadi divisi Kestari. Namun aku memberi support dia selalu. Menurutku dia bukan tipe orang yang akan lari dari tanggung jawab ketika pekerjaan itu membutuhkan dia. Setahuku dia orang yang kritis dan realistis. Sebenarnya dia berada di 1 tahun diatasku. Alias dia seharusnya sekarang dia adalah kakak angkatan diatas angkatanku. Aku pikir, pantas pemikiran dia begitu luas dan cerdas sekali. Ternyata dia dulu pas SMA pernah menerima semacam pertukaran pelajar 1 tahun di Amerika. Sehingga dia cuti sekolah 1 tahun untuk mengejar asanya tersebut. Wow! Aku takjub dengan dia. Hal itulah yang menjelaskan bahwa dia begitu capciscus dalam berbahasa Inggris. Selain himpunan dia juga bekerja di lembaga lain, yaitu AEC. Semacam English Club dikampus fakultas.
Next. Rani. Dia menjabat sebagai Koordinator Divisi Keacaraan. Aku akui aku kurang dekat dengannya dalam kepanitiaan-kepanitiaan sebelumnya. Baru kali ini aku bekerja satu tim dengannya. Yang aku tahu, dia pernah masuk di kepanitiaan Expert, salah proker terbesar dibulan Oktober kemarin. Hal-hal yang mengejutkan tentang dia adalah dia dulunya juga seorang Paski SMA. Sepengetahuanku dia dulunya SMA Sampoerna di Malang. Kami mulai dekat ketika kepanitiaan ini. Beberapa kali kami curhat berdua sembari makan dikantin. Hal lainnya adalah dia ternyata juga mengenal teman-teman SMPku dulu, yang sebagian menjadi teman se-SMA juga. Dia kenal mereka saat mengikuti suatu lomba di Surabaya. But after all, dia orang yang smart. Bahkan IPnya jarang kurang dari 3,9.
Next. Christ. Dia menjabat sebagai Koordinator Divisi Koper (Konsumsi dan Perlengkapan). Kami pernah bekerja dalam beberapa kepanitiaan. Ketika dia menjadi Kapel acara Bakti Sosial saat bulan Ramadhan kemarin, aku menjadi staff Transperkom, dan spesialisasiku mengurusi Konsumsi. Kepanitiaan lain adalah di proker B-Plan (Business Plan). Proker yang diadakan pada bulan September kemarin dengan Kapelnya adalah Sarah. Tak banyak dapat aku tangkap dari kepribadiannya. Sebatas yang aku liat, dia orangnya tanggung jawab. But after all, dia orang yang kritis dan memiliki pengetahuan umum yang luas juga.
Hari Sabtu, tanggal 8 November 2014, kami mulai bekerja. Menata ini itu dan menjadikannya timeline agar apa yang kami kerjain menjadi terjadwal dan teratur. Bicara masalah timeline. Inilah yang menjadi salah satu hal betapa gabutnya kami diawal kepanitiaan ini ketika para staff juga belum terbentuk alias belum waktunya oprec (Open Recruitment). Selama hampir lebih dari 1 bulan, sekber Himpunan menjadi daerah kekuasaan kami. Alias daerah steril. Jadi selain panitia dilarang masuk. Aku pun baru tahu, karena saat maba dulu aku tidak mendaftar di kepanitiaan ini. Di dalam sekber tersebut, kami melakukan berbagai hal. Seperti yang sudah aku katakan, yaitu TIMELINE mulai dari awal hingga akhir Pemilu Cakahim. Kami berpedoman bahwa akan ada Pencoblosan pada periode ini karena 2 tahun terakhir selalu aklamasi. Siang, sore, malam, kami selalu membicarakannya. Saling memberikan informasi mengenai perkembangan acara Pemilu fakultas, terutama timeline, karena tak mungkin kita mengadakan Pemilu di hari yang sama dengan mereka. Bahkan sampai pukul 10 malam kita masih membahas timeline. Aku selalu berharap ketika pulang malam diatas jam 9, daun keberuntunganku akan selalu ada. Namun, 2 kali aku kehilangan daun keberuntunganku, alhasil suatu ketika aku yakin jam setengah 10 kostku belum terkunci, aku pulang dengan terburu-buru.
Hasilnya? Aku terkunci. Aku cemas karena keadaan sekitar juga sudah sepi. Maklum, kostku berada didaerah kavling semacam perumnas. Tak pikir panjang aku langsung menelepon dia. Syukurlah, aku memiliki sobat yang mau menampungku ketika kostku benar-benar tidak mau diajak kompromi. Aku pun berjalan kembali menuju kost temanku. Kost Sarah berada di ujung Timur kampus. Itu artinya aku sama saja 1,5 perjalanan apabila ditambah jalanku saat menuju kostku tadi. Terburu-buru aku berjalan. Kampus masih terdapat orang, namun sepi mulai merayapi tiap sudut kampus. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 22.30 WIB. Sarah meng-sms aku, aku diminta mempercepat jalanku karena gerbang kostnya akan ditutup 10 menit lagi. Oh ya Tuhan!!! Padahal sebelum pulang tadi, aku sudah merencanakan akan mandi, kemudian mengerjakan ppt presentasi besok siang. Masalah lagi, besok adalah hari Senin, dengan jadwal pagi jam 06.30 , matkul Akuntasi Biaya 2 dan buku pegangan matkul tersebut berada dikos. GREAT! Padahal aku sudah membayangkan akan menikmati kasur empukku dan selimut tebalnya yang begitu aku rindukan.
Singkat cerita.
Alhamdulillah. Masing-masing orang pun menyampaikan kesan-kesannya selama mengikuti kepanitiaan ini di akhir acara puncak. Bahagia rasanya bekerja dengan mereka semua. Bekerja hampir 1 bulan lebih demi kesuksesan acara ini. Banyak suka duka kami lalui, meskipun pada akhirnya kami dapat melaluinya dengan mudah dengan segala upaya yang ada untuk bangkit.Itulah kepanitiaan terbesarku diakhir kepengurusan Himpunan ini. Syukurlah dengan segala tekanan yang ada, aku masih memiliki mereka yang secara sukarela dan baik hati mampu mensupportku dengan cara mereka tersendiri, sehingga aku mampu bertahan. Terima kasih, kawan-kawan.
Lanjut di A Gorgeous Year With Them (Part 2).
M.


Comments