Ceritaku sebagai Mahasiswa Universitas Brawijaya (#1)

Sebelum membaca postingan ini, alangkah baiknya jika kalian membaca pengalamanku di Ospek Universitas berikut ini :) Experience of Gala University Orientation

source: ub.ac.id


Well, 2013 merupakan tahun pertama aku masuk dunia perkuliahan. Banyak rasa berkecamuk dalam pikiran dan perasaan. Memikirkan bagaimana nanti kehidupan kampus, tinggal jauh dari orangtua, jauh dari kampung halaman, bertarung cari makan sendiri, bakal jarang ngrasain masakan mama tercinta, dll. Intinya bakal ngurus diri sendiri. Bisa dikatakan belajar mandiri di kota orang.

Disini aku akan menceritakan gambaran besar mengenai masa-masa tahun pertamaku sebagai anak kuliahan. Bagaimana sih rasanya kuliah dan tinggal di kota Malang? 
Aku sudah sering mendengar mengenai kota Malang. Bukan pertama kalinya pula aku menginjakkan kaki di kota ini. Kota ini sejuk, kadang-kadang juga panasnya minta ampun. Apalagi bila di penghujung penerimaan mahasiswa baru (maba), entah ini memang sudah periode musim dinginnya, hawa atau suasananya terkadang mendung dengan semriwing dingin. A lil' bit gloomy, cocok nih buat anak yang melankolis. Kalau sudah begini, bangun tidur pun rasanya susah dan malas untuk beranjak dari hangatnya selimut. Keadaan tersebut terkadang terjadi ketika hari Sabtu atau Minggu, atau mungkin saat tidak ada kuliah pagi atau libur. Rasa malas akan semakin memuncak hujan kepagian melanda kota Malang. Hmmmm, kalian akan butuh niat tingkat tinggi untuk membulatkan tekat agar jangan sampai membolos kelas.

Di tahun pertama kuliah ini, Malang memang memberikan beragam pengalaman dan insights baru ketika aku harus tinggal lama. Meskipun dengan hawanya yang sejuk plus dingin, dan kebetulan aku terobsesi dengan musim dingin a la negeri Eropa, tentu saja hal ini memberikan nilai plus bagi aku yang suka dengan outfit dari wol ataupun macam outer, seperti sweater, coat, dll. Disisi lain, tinggal jauh dengan kampung halaman akan memberikan kamu ruang berfikir mengenai kehidupan yang sebenarnya, perjuangan hidup, bertemu kehidupan sosial yang beragam dan berbeda dari yang biasanya kamu temui saat di kampung halaman. 

***

Di program studiku, mata kuliah semester 1 sudah terprogram, yakni 7 mata kuliah dengan beban SKS masing-masing adalah 3 SKS, total 21 SKS. Sedangkan untuk semester 2, kalian harus menginput secara online melalui sistem informasi kampus, prosesnya biasanya disebut KRS. Beban SKS dalam satu semester maksimal 24 SKS, dan berhubung mata kuliahku di setiap semester sebanyak 7 mata kuliah (melihat buku Pedoman), maka agar sisa 3 SKS tersebut tidak tersia-sia aku mengambil mata kuliah dari semester genap. It means aku mengambil satu mata kuliah dari semester 4 untuk semester 2 tersebut. Hal tersebut efektif bila untuk masa kedepannya, karena semester-semester selanjutnya beban mata kuliah yang harus kamu ambil akan berkurang. Itu berarti meringankan diri sendiri, disisi lain Indeks Prestasi kalian harus diatas angka 3,0 untuk mengambil 24 SKS. Sama halnya pula dengan semester ganjil. 

Awal masuk kuliah merupakan saat yang tepat untuk mencari teman. Berawal dari ngobrol-ngobrol biasa, siapa tau bisa menjadi sahabat atau teman dekat. Atau mungkin....biar ada teman sekelas yang dikenal nantinya. Memasuki musim KRS-an, kita para mahasiswa tentu akan disibukkan dengan berebut kelas secara online, tentu. Untuk prodiku, kelas yang tersedia biasanya 2 kelas, atau biasanya akan ada yang mengajukan tambah kelas karena kedua kelas sebelumnya full dan peminatnya masih diatas 20 orang. Biasanya yang membuat membludaknya tambah kelas adalah para mahasiswa semester atas yang mengulang kembali mata kuliah tertentu karena nilainya jeblok. Bisa juga memang si bagian akademiknya cuman nyediain 2 kelas, padahal jumlah mahasiswa prodinya bejibun, sometimes it's irrational. Makanya ketika musim KRS-an, biasanya ruang akademik akan dipenuhi oleh para mahasiswa dengan berbagai tujuan.

Ketika zamanku dulu, jam bukanya KRS adalah pukul 12 malam. So......diatas jam 12 malam adalah waktunya bertempur. Disini kecepatan internet mempengaruhi performa untuk bisa mengakses sistem informasi mahasiswa, yang dikampusku disebut SIAM. Hal tersebut dikarenakan membludaknya mahasiswa yang mengakses SIAM. Selain harus berkejaran dengan waktu, terkadang bagi kita yang ingin sekelas dengan geng, group chat akan ramai membahas setiap update-an KRS. Saling menyamakan kelas dengan teman-teman dan berbagai pertimbangan lainnya, seperti jam kuliah. Jam masuk kelas terpagi adalah jam 06.00 hari Jum'at. Meskipun pada akhirnya biasanya si dosen akan membuat perjanjian dengan mahasiswa dengan memajukan jamnya menjadi jam 06.30 atau 07.00.

***
Memasuki dunia perkuliahan, maka kalian akan menemui banyak teman yang berasal dari berbagai pelosok daerah di negeri tercinta ini. Dari Sabang sampai Merauke. Aku tidak tahu apakah ini bisa dikatakan mayoritas atau bukan, mahasiswa Jakarta banyak diantara sekian teman seprodiku. Dan adapula yang dari Sumatera, kebanyakan dari kota-kota di Jawa. Kalau dilihat secara keseluruhan dalam lingkup fakultas, diversitasnya memang terasa, tapi kalau secara prodi, not really. Ada yang berbicara dengan bahasa Indonesia logat kental masing-masing daerah. Intinya, teman kalian bertambah luas cakupannya.

Awal semester, aku sudah tertarik untuk ikut kegiatan organisasi lingkup fakultas. Dikampusku disebut dengan LOF (semacam ekstrakurikuler), ada pula himpunan, BEM. Aku memilih 2 LOF dan satunya adalah himpunan jurusan. Awal-awal menjadi mahasiswa tuh memang banyak maunya, pengen ikut komunitas fotografi, lembaga pers, LOF bahasa Inggris, himpunan, dll. Pada akhirnya satu per satu protol dengan sendirinya karena pastinya kalian akan disibukkan dengan satu kegiatan yang sering kalian prioritaskan, atau memang sulit membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Aku dulu pada akhirnya lebih memilih himpunan, dan melepaskan 2 organisasi lainnya. Dan...himpunan tersebut menjadi organisasiku selama dua tahun. Sebenarnya mengikuti organisasi lebih dari 2 itu pilihan masing-masing orang, tapi jangan lupa juga untuk disesuaikan dengan kemampuan. Perhitungkan waktu yang harus kamu bagi. Jangan lupa, tujuan utamamu adalah kuliah. Tapi ya jangan menghapuskan kegiatan berorganisasi dari daftar. Itulah mengapa, setidaknya pilihlah satu organisasi yang bisa menunjang tumbuh kembangmu sebagai mahasiswa, yang tidak merusak tujuan utamamu untuk kuliah.

***

Sebagai mahasiswa baru tentu sebagian dari kalian yang bukan asli Malang belum terlalu tahu seluk beluk kota Malang yang sebenarnya. Kalau ternyata Malang itu terbagi Kabupaten dan Kota. Kalau yang suka pantai, kabupaten Malang menyimpan banyak pantai-pantai nan indah, bahkan ada yang tersembunyi. Meskipun perjalanan dari kota Malang untuk menuju pantai bisa memakan waktu berjam-jam pun belum tentu jalan yang dilalui itu baik kondisinya. Terlepas dari itu, cobalah tengok ujung kanan kiri dari kampusmu, apakah kalian sudah mengenal tiap sudutnya, tiap gangnya, tiap tempat tertentu. Kalau kalian ngekos di daerah Kerto dan Watu (jalan keluar fisip/teknik UB-sisi Timur) pasti kalian akan menemui banyak gang-gang dan jalan tikus layaknya labirin. Awalnya memang menyesatkan, tapi lama kelamaan kalian pasti akan terbiasa. Percayalah.

Nah bila kalian ngekos didaerah barat UB, itu merupakan kawasan shopping terdekat dari UB. Didaerah terdapat perumahan kavling dan lebih kedalam terdapat perumahan penduduk dengan jalan-jalan gang. Area barat UB terdapat UB Sport Center, hotel Swiss Bellin, MX Mall, Matos Mall, Pujasera UB hingga melingkar ke sisi selatan terdapat Brawijaya Smart School, Gedung Inbis, dan jejeran Bank-bank. Bisa dikatakan, kalau kalian ngekos didaerah ini harus bisa ngerem hypes untuk shopping sampai menguras kantong, jangan mentang-mentang dekat dengan mall.

***

Masa awal dengan masih berlabelkan mahasiswa baru, di masa ini mungkin ada yang merasa deg-degan dengan seperti apa nantinya kehidupan kuliah yang akan dijalani, akan sekiller apakah dosennya nanti, bakalan dapat tugas dari dosen bla bla bla, akankah bisa berbaur dengan teman dari berbagai daerah, dan beragam pertanyaan dalam benak masing-masing insan yang tak ternalar. Disisi lain ada yang merasa bahagia karena sudah merasa bebas dari hiruk pikuk beban 1 minggu penuh mata pelajaran monoton semasa SMA. Ada pula yang merasa bebas karena merasa tidak lagi terbebani larangan orangtua untuk keluar malam, pergi kemanapun sesuka hati.
Ya, kalian bisa merasakan apapun itu, beragam rasa campur aduk dengan banyak pemikiran-pemikiran yang kian membuncah, entah karena antusiasme atau terbawa suasana semata.

to be continue...

Comments

Popular Posts