Kuliah Bisnis Internasional di Universitas Brawijaya

source: kent.ac.uk

Tahun 2013 merupakan tahun 'sakral' bagiku, yakni awal mula kehidupanku sebagai seorang mahasiswa. Ya, pertengahan tahun tersebut aku resmi menyandang pangkat mahasiswa 'junior' di Universitas Brawijaya. Sebelum memutuskan pilihan untuk berkuliah disini, begitu sesak rasanya pikiran ini dipenuhi gundah gulana tentang 'jurusan apa yang harus aku ambil?'. Kembali ke masa ketika aku masih SMP kelas 7, dulu aku berkeinginan kuliah jurusan Sastra Inggris. Lalu ketika diriku menginjak kelas 9, aku ingin kuliah jurusan Hubungan Internasional. Dan...ketika masuk SMA, disinilah pemberhentian terakhir sebelum menuju dunia perkuliahan. Sejak kelas 10, konselor sekolahku selalu menekankan pada siswa-siswinya mengenai 'WHO AM I?'. Pada saat itu, bagi sebagian besar siswa masih menganggap enteng apa makna sebenarnya dibalik pertanyaan singkat tersebut. Kemungkinan karena kami masih memiliki jalan panjang kurang lebih 2 tahun kedepan, begitulah pikir sebagian besar dari kami.

Lalu, apa hubungannya antara jurusan kuliah dan 'WHO AM I?' ?
Well, apabila ditelisik lebih dalam, proses penentuan jurusan kuliah yang sesuai dengan diri pribadi bagi sebagian orang sangatlah sulit dan memakan waktu lama. Disinilah guna memperdalam makna dari 'WHO AM I?'. Siapa diri kamu sebenarnya? Apa kecondonganmu? Bagaimana dirimu mengenal kepribadianmu sendiri? Bagaimana hubungan sosialmu dengan orang sekitar?, dan lain-lain. Oleh sebab itu, biasanya untuk mengetahui potensi dasar siswanya sekolah mengadakan beberapa kali tes psikologi / kemampuan dasar / apapun itu sebutannya. Apalagi menjelang tahun terakhir di SMA, tes ini kalau bisa jangan diremehkan karena bisa menjadi pedomanmu untuk memutuskan jurusan kuliah apa yang akan kamu ambil.

Back to my story.
Kala itu, tes kemampuan dasarku menunjukkan bahwa aku kurang bagus bila berhadapan dengan hal-hal yang berbau perhitungan/kalkulasi, sedangkan aku lebih condong ke hal yang berbau seni, filosofi, musik, ilmu pengembangan diri, at least seperti itu seingatku.
Sebenarnya aku ingin mengambil jurusan Akuntasi sebagai pilihan utama dalam daftarku. Kembali lagi, aku mempertimbangkan jurusan lain seperti Administrasi Pemerintahan, Administrasi Bisnis, Psikologi, Ekonomi Pembangunan, dan Ilmu Komunikasi. Selain mempertimbangkan jurusan, aku juga memiliki 2 pertimbangan universitas, yakni UNAIR dan UB. Sebanyak mungkin aku mencari berbagai informasi mengenai jurusan-jurusan tersebut dengan bertanya pada relasi, kakak kelas yang kuliah di UNAIR / UB.
Pada daftar penerimaan universitas kakak kelas, aku menemukan bahwa anak perempuan dari guru Sejarahku kuliah di UB dan mengambil jurusan Bisnis Internasional. NOTED: Bisnis Internasional (Binter) ternyata adalah jurusan baru. Karena konselor sekolah menyediakan kontak kakak alumni yang sudah kuliah, alhasil aku mendapatkan nomor anak perempuan guru Sejarahku tsb. Sebut saja Kak Fatia. Kak Fatia memberikan banyak informasi dan gambaran mengenai jurusan Binter tersebut (hingga rasanya makin bingung menentukan jurusan) serta gambaran besar situasi kuliah jurusan yang bernotabene ada 'internasional'nya ini. 

Setelah berdiskusi panjang serta berbagai pertimbangan yang kolot dan perdebatan batin yang melelahkan, akhirnya aku melabuhkan pilihan pertama jurusanku adalah Bisnis Internasional UB dan pilihan kedua adalah Akuntansi UB untuk pendaftaran SNMPTN (Jalur Undangan). Puji syukur, aku keterima di pilihan pertama. Well, kalau dinalar memang tentu saja aku keterima di pilihan pertama, karena aku menempatkan jurusan Akuntansi yang notabene jurusan 'eksis' di pilihan kedua sedangkan Binter yang bisa dikatakan jurusan 'greeny' di pilihan pertama. You know what I mean, right.

***
Let's deal with it.

Obviously, pada masaku (2013) Bisnis Internasional merupakan program studi yang masih diperjuangkan ketetapannya sebagai program studi yang 'SAH'. Pada awalnya aku pikir Binter masuk dalam jajaran jurusan hits Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) karena memiliki dasar Bisnis, ternyata Binter dimiliki oleh Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Secara umum, di FIA UB terdapat dua jurusan utama yakni Administrasi Bisnis dan Administrasi Publik, yang mana keduanya menaungi beragam Program Studi (Prodi). Nah, Binter dinaungi oleh jurusan Administrasi Bisnis.

Dalam rutinitas pertemuan kuliah / tatap muka dengan dosen, bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris seperti imajinasiku sebelumnya. Meskipun jalannya perkuliahan menggunakan bahasa Indonesia, bahan ajar dan literatur yang digunakan hampir 95% berbahasa Inggris. Pada awal kuliah semester 1, mata kuliah yang diajarkan masih matkul dasar, seperti Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, Bhs Indonesia, Teori Organisasi dan Administrasi, Akuntansi Keuangan 1, Pengantar Bisnis Internasional, dan Hukum Bisnis Internasional.
Dilanjutkan semester:

2 : Bhs Inggris, Kepemimpinan, Perilaku dan Pengembangan Organisasi, Etika Administrasi, Akuntansi Keuangan 2, Statistik, dan Komunikasi Binter.
3 : Akuntansi Biaya 1, Ekonomi Makro, Bahasa Inggris Bisnis, Hubungan Internasional, Administrasi Perusahaan Multinasional, Manajemen Transportasi dan Logistik, dan Manajemen Lintas Budaya.
4 : Sistem Informasi Manajemen 1, Dasar-dasar Pemasaran, MSDM, Keuangan Bisnis 1, Adminitrasi Ekspor Impor dan Kepabeanan, Bahasa Asing (Mandarin), dan Metode Penelitian Bisnis Internasional.
5 : E-Business, MSDM Internasional, Pemasaran Internasional, Manajemen Keuangan Internasional, Moneter Internasional, Analisis Resiko Binter, dan MATKUL PILIHAN 1.
6 : Akuntansi dan Perpajakan Internasional, Kebijakan Bisnis Internasional, Kewirausahaan dan Manajemen Inovasi, Analisis Ekonomi Internasional, dan MATKUL PILIHAN 2.
7 : Seminar MSDM Internasional, Seminar Pemasaran Intl, Seminar Manajemen Keuangan Internasional, Seminar Bisnis Internasional, dan MATKUL PILIHAN 3.
8 : Magang dan SKRIPSI.

Binter memiliki 3 matkul pilihan, yakni (1)Portofolio Investasi Global, (2)Perencanaan Strategi Global, dan (3)Global Business Environment. Ketiganya harus dipenuhi semua, akan tetapi mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih matkul mana yang ingin diambil terlebih dahulu, tidak harus sesuai nomor urut.
Untuk penggunaan literatur, kita lebih banyak menggunakan e-book daripada hard-bookYou know, sebagian besar literatur memiliki lebih dari 300 halaman. Selain lebih hemat, well, perkembangan teknologi sudah maju dan paperless is a thing. Meskipun adapula literatur yang hardbook dan ada beberapa dosen yang mengharuskan masing-masing mahasiswanya membawa hardbook, hal tersebut bisa kalian akali dengan meminjam kakak kelas atau pinjam di perpustakan. Kalaupun benar-benar kepepet, kita lebih mencari buku yang second-hand karena harganya cenderung ramah dikantong mahasiswa. Hardbook yang sering menjadi buruan mahasiswa Binter adalah buku keuangan/akuntansi. Jadi, jangan kaget kalau buku-buku kakak kelas sudah penuh booking-an untuk dipinjam.

***
Sekitar pertengahan tahun 2015, mahasiswa Binter melaksanakan Study Tour Surabaya-Semarang-Yogyakarta. Mengunjungi perusahaan-perusahaan dan diakhiri dengan berplesir di Yogya menjadikan pengalaman yang tak terlupakan bagiku karena dapat berkumpul dan melakukan hal-hal seru bersama teman-teman sekaligus angkatan junior Binter. Upaya untuk menunjang pembelajaran nyata tidak hanya dilakukan dengan Study Tour, juga bekerja sama dengan dosen-dosen pengampu Binter untuk mengadakan semacam seminar atau pelatihan, seperti pelatihan ekspor-impor, dengan mendatangkan pembicara-pembicara dari instansi tertentu.

Jadwal perkuliahan terpagi yang pernah aku dapat adalah pukul 6 pagi di hari Jum'at. Meskipun pada akhirnya jam kuliah pun disesuaikan kembali menjadi jam 06.30 atau 07.00 sesuai dengan perjanjian dosen pengampu matkul karena banyak yang datang terlambat. LOL. Selalu ada suka-duka dalam setiap perkuliahan. Sebagai manusia introvert yang lebih memilih menyimpan isi pikirannya dalam 'koper', sedangkan terkadang perkuliahan lebih banyak berdiskusi dan bertukar pendapat, aku terkadang memberikan opini singkatku jika memang harus diutarakan. Namun bila harus dituangkan dalam bentuk essai atau tulisan, I'm really happy for it. Meskipun aku pernah kena 'sentil' dosenku karena nilai diskusiku masih kosong. How embarassing it was. Atau, argumenku pernah disanggah oleh dosen ketika menjadi kelompok pembahas di seminar matkul. Dibandingkan dengan teman-temanku lain yang begitu talkactive ketika berdiskusi dan lihai dalam mengutarakan ide atau pendapat, bisa dikatakan aku memang agak pasif. Itulah kenapa sebelum berbicara aku lebih suka memikirkan ide/opiniku atau membuat catatan kecil, sehingga aku tidak kehilangan arah pembicaraan ketika mengutarakannya.

And yeah...that's the story.
***
Have a questions? Lemme know in the comments section. Thank you

Comments

Popular Posts