Perjalanan Refleksi Diri ke Bromo

unsplash.com/Thomas Ciszewski


Kisah ini sekitar 1,5 tahun yang lalu.




28 Februari 2015

Semuanya diawali ketika sore hari yang mendung gelap ditemani dengan hujan lumayan deras. Kami para mahasiswa program studi Bisnis Internasional sedang menghadiri Kuliah Tamu digedung C lantai 3 FIA UB. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 5 lebih. Ketika Kuliah Tamu sudah berakhir selesai, anak-anak sudah pada berdiri untuk keluar ruangan. Tiba-tiba aku dipanggil temanku, Duhita, yang duduk dikursi paling atas. Dia mengatakan mau ngobrol sesuatu yang penting. Aku pun menghampirinya dan berjongkok disamping kursinya.

Kemudian meluncurlah tawaran yang membuat aku langsung melonjak senang. Sebuah tawaran ke Bromo. Malam ini juga berangkat. Awalnya aku excited banget. Namun kemudian aku memandang keluar jendela yang sedang didera hujan, menyisakan gerimis yang cukup tebal. Aku pun bertanya mengenai kemungkinan hujan dan lain-lainnya. Sedikit was-was merayapi aku. Tidak bisa membayangkan perjalanan malam menuju Bromo dengan ditemani hujan.

Apa gunanya teman kalau tidak bisa meyakinkan seorang teman demi sebuah kesempatan emas ini, meskipun dadakan. Akhirnya aku menyetujui untuk ikut. Sebenarnya tawaran Duhita ini berasal dari Okta, yang duduk disampingnya, ia diajak oleh teman-temannya dari fakultas lain. Kebetulan sekali ceweknya kurang satu, untuk menggenapi boncengan 1 motor. Setelah menemui kesepakatan, kami pun beranjak keluar ruangan.

Aku harus menghadiri sebuah rapat kegiatan prodiku terlebih dahulu sebelum mempersiapkan kebutuhan ke Bromo. Setelah rapat selesai kira-kira pukul setengah 7 malam, aku pun berjalan pulang. Tak lupa mampir membeli snack dan makan. Sesampainya dikost aku langsung bergegas bersiap-siap. Beruntung aku membawa jaket polarku dari Nganjuk (berawal dari rencana ke Ranukumbolo yang gagal).

***

Sekitar pukul 7 malam aku sudah berada dikos. Menata barang secukupnya yang perlu aku bawa. Sebelumnya aku sudah mengisi perutku, karena aku tahu hawa dingin akan bakal lebih sering membuat perutku keroncongan.

Well, persiapan sudah siap. Cukup dengan membawa tas berukuran sedang yang anti air, dan warnanya kuning mencolok. Aku melihat jam dihapeku, menunjukkan pukul setengah 9 malam. Aku sudah siap dengan penampilanku, tasku dan helmku. Segera aku pun berangkat menuju kos Duhita di daerah Kerto Kingdom. Kos Duhita adalah tempat kumpul kami bertiga para cewek, aku, Duhita, dan Aya.

***

Sekitar pukul 10 malam, kami pun berangkat menuju Indomart Center Point, dimana para cowok masih dengan asyiknya menonton pertandingan bola. Sesampainya disana, kami memutuskan untuk menunggu didepan Bank BRI dan memilih  duduk dibangku yang ada. Beberapa menit kemudian datanglah teman-teman cowok kami, Okta dan Syihab, menemui kami didepan Bank BRI. Kami berlima berbincang-bincang mengenai perjalanan kami nantinya. Mulai dari kondisi motor, antisipasi kalo semisal ada ‘apa-apa’ yang tidak kita inginkan, sampai rencana untuk menyewa jip dari Tumpang untuk menuju Bromo, gara-gara kami para cewek sedikit mengkhawatirkan mengenai desas-desus begal. Pada akhirnya kami pun tetap pada rencana awal. Naik motor.

***

Tempat kami menunggu berpindah ke McD. Kami memesan camilan dan minuman es sebagai teman dan pengisi perut sembari menunggu kedatangan teman-teman Okta. Kami menunggu lumayan lama ditempat itu. Sekitar pukul setengah 12 malam, kami sudah siap dengan segalanya, teman-teman Okta pun juga sudah datang. Kami menemui mereka di parkiran dekat Indomart Center Point. 3 cowok dan 2 cewek.

Here we go! Perjalanan kami pun dimulai. Sebelumnya kami membeli bensin di pom bensin UMM. Dan selanjutnya, aku sudah lupa jalan mana yang kami lewati. Karena malam sudah pekat sekali, ditambah udara terasa dingin, meskipun suasana jalanan masih ramai.

***

Selanjutnya, kami sudah berkendara menembus keramaian malam. Kedua mataku memang terasa berat, namun perjalanan ini kalau tidak dinikmati rasanya seperti hambar dan tak ada kenangan yang menyentuh. Jadi, sepanjang perjalanan aku menikmati keramaian jalanan yang masih hidup meski malam mulai merangkat menuju dini hari. Maklumlah, suasana kota memang jam segini masih ramai.
Ketika kami berbelok ke sebuah jalan, memasuki area perumahan pedesaan. Semakin masuk kedalam dan terus, suasana jalanan tidak lagi terasa ramai. Kesunyian malam dan dinginnya udara menjadi teman berkendara kita. Aku memohon pada Okta agar jangan di urutan rombongan terakhir, well, aku sedikit ilfil dengan hal-hal di belakangku. Kami sempat berpapasan dengan anak-anak muda dengan motor berisiknya. Kami membiarkan mereka agar mendahului kami. Kita mencari aman.

***

Alhasil, sepanjang perjalanan aku selalu waspada. Karena terkadang kami harus melewati semacam kebun dengan pepohonan rimbun nan gelap. Perjalanan menuju Tumpang, kami lebih banyak menemui jalanan menanjak meskipun masih diarea perumahan desa. Aku tidak ingat dengan jelas kita sampai dimana (sebelum Tumpang atau sesudah Tumpang), yaitu ketika kita semua berhenti dan didepan banyak sekali kendaraan yang berhenti, ada motor dan jip, dan orang-orang berlalu lalang dengan pakaian hangatnya. Kalau tidak salah itu merupakan semacam gapura masuk, sehingga kami perlu membayar biaya sekian rupiah untuk masing-masing kendaraan, dan aku lupa nominalnya.

Ketika kami sampai di Tumpang, di area yang cukup lapang banyak jip berjajar dimana-mana dengan keramaian orang-orang yang juga akan menuju ke Bromo, udara semakin terasa dingin. Dinginnya hampir samalah dengan suasana malam pegunungan di Batu.

Kami meneruskan perjalanan kami. Kemudian kami berisitirahat sebentar disebuah masjid untuk buang air kecil dan sekedar mengistirahatkan badan yang pegal. Tak selang lama kami pun melanjutkan perjalanan kami. Beberapa kilo didepan terdapat sebuah belokan dengan jalanan menurun. Terdapat beberapa penduduk berada disekitar situ. Sekedar duduk-duduk atau memang memiliki tugas untuk memandu jalan kendaraan ke Bromo agar berhati-hati, karena jalanan licin dan ada beberapa yang becek karena hujan. Kami memang pergi ke Bromo disaat musim hujan, semoga saja perjalanan kami ke Bromo diberkahi oleh Tuhan.Selain itu, kami mulai memasuki area hutan. Yah, seperti Pujon penggambarannya. Jalanan aspal tidak terlalu lebar dengan sisi kanan kiri kegelapan hutan yang ada, plus jurang menganga. Agak ngeri memang membayangkannya, apalagi suhunya semakin dingin sekali. Uap mulut sampai terlihat. Dibelokan ini kami berhenti sejenak, menunggu teman kami lainnya sedang buang air kecil entah dimana. Sambil memandangi pemandangan dibawah sana, lampu berkelap-kelip indah. Rasanya seperti melayang diatas awan langit malam. Aku mengecek hapeku, karena sedari tadi aku tak tahu jam berapa sekarang. Kalau tidak salah ingat, saat itu hampir pukul setengah 2 pagi lebih.

***

1 Maret 2015

Selamat datang bulan Maret. Aku sungguh sangat senang sekali. Aku bisa menikmati awal bulan dengan suka cita dan apalagi dengan adanya perjalanan ini, semakin menambah semangatku.

Selang beberapa lama, kami sudah berkumpul semua dan siap melanjutkan perjalanan. Dimulailah perjalanan kami kembali. Melewati jalanan aspal yang gelap dengan sisi kanan kiri berupa hutan gelap. Terkadang pula kami melewati jalan yang sisi kanan atau kirinya terdapat jurang dengan pemandangan yang sungguh-sungguh indah diujung bawah sana. Kemerlap-kemerlip lampu sungguh indah dipandang. Tak akan bosan pokoknya. Selama kamu menikmati perjalanannya, maka kantuk tak akan menyerangmu.

Namun suatu kejadian yang tak duga terjadi. Boncengan salah satu teman kami yang berada di paling depan, terjatuh ketika dibelokan. Dengan keadaan jalanan yang gelap, dan untungnya suasana malam itu tidak mendung lumayan cerah tanpa awan, bisa dikatakan teman kami itu mungkin tidak menyadari adanya belokan tajam yang menanjak. Lumayan menanjak. Untung dia dan cewek yang diboncengnya tidak terluka parah, meskipun lampu merah belakang motornya pecah.

Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak diujung tanjakan sambil mengambil nafas. Kami menemani teman kami yang jatuh tadi menuntun motornya naik keatas. Para cewek juga turun memilih berjalan sembari melemaskan otot kaki dan para cowok menepikan motornya diatas. Suhunya semakin terasa sangat dingin. Aku sedikit merasa sesak karena sehabis berjalan menanjak tadi, dan berusaha mengatur pernafasan. Perpaduan antara capek berjalan menanjak dan suhu dingin, perlu sekali adanya adaptasi atau anak gunung nyebutnya ‘aklimatisasi’. Untung aku tidak memiliki riwayat sakit sesak karena suhu dingin.

***

Perjalanan kami berlanjut. Beberapa kali kami berpapasan dengan mobil jip yang membawa penumpang, rombongan pejuang motor seperti kita, juga penduduk setempat yang menaiki motor tanpa helm dengan bersyalkan sarung plus topi wol atau kupluk, entah apa yang mereka kerjakan pagi-pagi buta begini. Kami juga sempat berpapasan dengan seorang ibu setengah baya yang memanggul sesuatu dengan kain jariknya. Aku berasumsi Ibu ini mau pergi ke pasar untuk berjualan. Wah! Hebat. Bayangkan, beliau berani berjalan ditengah gelapnya malam, bisa dikatakan pagi buta, sendirian, demi mencari penghasilan dari hasil jerih payahnya. Salut sama ibu itu!

Mendekati suatu spot, jalanan tampak mulai ramai dengan seliweran kendaraan, yang kebanyakan dengan arah sama seperti kami. Hingga kami menjumpai kerumunan keramaian, sangat ramai, banyak kendaraan yang menumpuk disana. Menunggu arus didepan untuk segera berjalan. Alhasil kondisi sekitar menjadi begitu terang dari lampu-lampu kendaraan. Entah ada apa diujung sana, kami menunggu cukup lama. Terkadang kerumunan kendaraan berjalan merayap sedikit-sedikit lalu menunggu lagi. Dengan suhu yang entah minus berapa, dingin sekali bung, plus jalanan yang tidak terlalu datar, plus derungan suara dari kendaraan-kendaraan agar menjaga mesin tetap on. Ada beberapa motor yang terpaksa menepi karena mengalami kerusakan mesin, muncul asap dari bawah mesinnya. Well, sebagai bahan pembelajaran. Medan menuju ke Bromo memang tidak main-main. Banyak sekali jalanan menanjak yang akan kita temui. Bahkan tanjakannya nggak main-main, hampir 35* (setahuku sih). Alhasil, kendaraan haruslah dalam stamina yang fit sebelum berangkat.

Suasana ketika macet dan menunggu cukup lama
image by Amd

Kami menunggu cukup lama. Aku sampai bosan dan ngeri dengan derungan suara-suara kendaraan disekitarku. Banyak mesin yang mengeluarkan asap karena mesin kepanasan atau mungkin karena terkena suhu dingin. Hingga kemudian kendaraan didepan mulai merayap berjalan perlahan-lahan. Dan kami pun bebas dari kemacetan.

Aku lupa pukul berapa saat itu ketika kami sampai di area pedesaan untuk melihat sunrise. Suasananya sungguh sangat ramai sekali. Bahkan nampak pula bule berseliweran. Suhunya dingin sekali. Bahkan kabut pekat masih melingkupi suasana waktu itu. Bisa dipastikan jarak pandang hanya 10 meteran dibawah sini, diparkiran motor.

Setelah memarkir motor masing-masing, kami pun melangkahkan kaki menuju ke atas. Dimana tempat melihat sunrise. Jalanan memang menanjak, namun beberapa bagian diberikan undakan. Plus, disisi kanan kiri kalian bisa menemukan kedai-kedai rumahan yang menawarkan menu-menu untuk menghalau dingin. Ada pula yang berjualan jagung bakar dan pernak-pernik souvenir khas Bromo, seperti syal dan topi wol dengan caption Bromo.

Kami memilih beristirahat disebuah kedai yang terdapat tempat cukup untuk kami semua. Beberapa ada yang memesan Pop Mie dan minuman, yang lain memesan minuman panas, seperti jahe, kopi, susu, kopi susu, teh, dan entah apa lagi aku lupa. Yang jelas, minuman tersebut akan sangat panas. Mengepulkan asapnya dengan semangat. Namun ketika kalian memegangnya dengan tangan, akan terasa tidak terlalu panas. Saking dinginnya sampai-sampai jemari tangan terasa kebal dengan panas.

Aku pun menyesap kopi susu yang aku pesan dengan nikmat. Kolaborasi yang pas. Suasana dingin dan minuman panas. Cocok sekali. Aku bakal merindukan suasana seperti ini nanti ketika kembali ke Malang.

Si Duhita lalu mengajakku ke toilet. Kami pun pergi ke toilet kedai tersebut yang berada dibelakang kedai dan terletak dilantai bawah. Suasana dibawah sini terasa lebih hangat, mungkin karena dekat penggorengan ya. Setelah selesai, kami naik kembali ke lantai atas. Aku mengajak Duhita untuk membeli jagung bakar didepan kedai kami. Kebetulan aku tergoda dengan aromanya yang terus menerus menguar kemana-mana. Kami kembali duduk di kedai, menikmati jagung bakar dan kopi susu. Sebagian dari teman-temanku memilih untuk terus menggenggam gelas minumannya untuk mencari kehangatan.

***

Setelah dirasa cukup, aku, Duhita, Aya, Syihab, Okta, dan 1 teman cowoknya (aku lupa namanya), beranjak terlebih dahulu. Sedangkan teman kami yang lain masih ingin berlama dikedai tersebut. Mereka akan menyusul nanti. Kami berjalan menuju ke atas. Kami pun berpencar karena ritme berjalan kami sepertinya berbeda. Adakalanya kami para cewek berhenti sebentar menatap pemandangan yang tertutup kabut pekat dan masih tertelan gelap. Menikmatinya.

Diatas ternyata tersedia sebuah bangunan berukuran sedang yang diperuntukkan bagi para muslim untuk beribadah. Karena aku sedang berhalangan, jadi aku menunggui Aya dan Duhita yang sholat, sambil membawa tas mereka. Suasananya sungguh ramai sekali, sampai antri untuk giliran mendapatkan tempat untuk sholat.

 Suasana ketika masih gelap waktu Shubuh
image by Amd


Nah ini ketika menjelang pagi, mulai terang
image by Amd


Sembari menunggu, aku lebih memilih memotret keadaan sekitar. Sepertinya kabut pekat masih setia melingkupi. Lalu lalang orang yang hilir mudik, ada yang berjalan naik, ada pula yang turun. Diujung sana, disanalah spot untuk melihat sunrise. Tak terlalu jauh. Bahkan terlihat sekali keramaian disana, mereka menunggu sunrise. Banyak yang membawa kamera super canggih mereka untuk mengabadikan momen tersebut.

Setelah Aya dan Duhita selesai, kami pun naik kesana. Sepertinya spot ini berupa seperti bangunan terbuka dengan atap. Dan dimana-mana sudah penuh dengan orang-orang yang tak sabar menunggu munculnya sunrise. Bahkan diluar bangunan ditepi pagar pembatas, sudah penuh orang-orang. Dan sebagian besar sedang melakukan selfie. Tak lupa, aku sudah siap dengan kameraku. Kami pun berfoto bersama, yang kebetulan juga kami melihat para cowok yang berpisah dengan kami tadi.

Sepertinya kami harus menelan pil kekecewaan. Tak hanya kami, namun semua orang yang sudah menunggu disana. Sepertinya pekatnya kabut menghalangi pandangan kami untuk menyaksikan sunrise. Kabut diseberang pagar pembatas memang pekat sekali. Bahkan terlihat putih keabu-abuan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi.

image by Amd

Kami pun akhirnya memutuskan untuk kembali turun. Lagi-lagi kami berpisah dengan para cowok teman kami. Lagian kita juga bakal berkumpul lagi dikedai tadi. Kami, para cewek, segera mengeluarkan jurus untuk berfoto ria. Meskipun suasana sedikit gerimis, mungkin kabut mulai memudar, tak menyurutkan pengunjung untuk mengabadikan setiap momen disini bersama orang-orang terdekat mereka.

***

Well, aku cukup kecewa juga karena tidak berhasil menyaksikan sunrise di kawasan Bromo ini. Namun setelah ini kami akan bertolak menuju Pasir Berbisik dan Kawah Bromo. Kami kembali melewati jalanan ketika kemacetan tadi, lalu berbelok menuju arah lain. Kabut pekat perlahan-lahan mulai memudar. Tergantikan dengan sinar matahari pagi yang cukup menghangatkan, udara sudah tidak terlalu dingin seperti pagi buta tadi. Kami berhenti menepi dekat dengan tanjakan, tepat dititik temu pertigaan jalan. Di spot ini, banyak sekali para pengunjung yang ngetem disini. Karena dari atas ini, kita bisa melihat hamparan pegunungan Bromo dan pasir berbisiknya yang indahnya bukan main. Betah memandanginya lama-lama. Semuanya serba hijau dan menyejukkan mata. Serasa semua beban dikepala luntur sudah, menyisakan sebuah gairah baru untuk bersemangat sekembalinya nanti.

image by Amd


image by Amd

Cukup lama kami berdiam disini. Aku mengambil banyak gambar bersama mereka. Teman-teman Okta juga mengajak kami untuk berfoto bersama-sama. Namun, sayang sekali, aku tidak mendapatkan file fotonya. Hiks.

image by Amd


image by Amd

Setelah puas menikmati pemandangan dari atas, saatnya kami menuju kebawah sana. Kalau tadi kita hanya memandang Bromo dan pasir berbisiknya dari atas, sekarang kami melanjutkan perjalanan untuk melihat dan merasakannya secara langsung. Perjalanan memakan waktu cukup lama, apalagi jalanan mendekati kawasan pasir berbisik kebanyakan menurun. Cukup curam. Makanya tak heran bila beberapa kilometer sebelum pasir berbisik, model jalanannya bukan berupa aspal, melainkan seperti cor-cor’an beton dengan permukaan kasar. Sehingga tidak licin ketika diguyur hujan.

Setelah berlika-liku dengan jalanan menurun, akhirnya motor kami menginjakkan diri di titik awal pasir berbisik. Well, jangan senang dulu ya. Pasalnya, beberapa kali motor kami kesulitan ketika melintas di atas pasir. Terutama pasir yang tebal. Alhasil aku pun beberapa kali turun dari motor dan memilih berjalan kaki. Sambil menikmati pemandangan yang ada. Hmmmmmm. Sungguh menyenangkan berada disini. Terasa begitu bebas dan lepas semua penat dikepala.

Akhirnya, setelah terseok-seok melewati padang pasir, kami pun sampai di area padang dimana parkiran berada. Terdapat pula toilet dan beberapa penjual yang menjajakan kacamata. Plus, kalian mungkin siapa tahu ada yang pengen naik kuda. Nah disini banyak sekali jasa yang menawarkan. Terdapat beberapa spot dimana para jip berjajar rapi memarkirkan diri.

Disini lumayan panas, tidak terlalu menyengat. Namun, kamu akan sering bertemu dengan debu yang berterbangan. Jadi ketika mendaki keatas jangan lupakan masker. Keliatannya memang dekat kalau dilihat dari bawah sini untuk menuju kawah. Pada kenyataannya, akan terasa jauhnya ketika dijalani, bahkan tak jarang pasir masuk kedalam sepatu.

A long way up to go
image by Amd


Aku merasa excited sekali. Ramai sekali ketika itu. Disepanjang perjalanan kamu bisa menemui ada beberapa penjual makanan atau minuman. Jadi kamu gak perlu khawatir kalo kena lapar atau haus. Tapi ingat, jagalah kebersihan.


image by Amd


image by Amd

Kamu akan menemui banyak kuda dan pemiliknya dibawah tangga menuju kawah. Bagi kamu mungkin yang capek setelah naik turun tangga ke kawah, bisa nih sewa kuda untuk turun kebawah lagi. Setelah menaiki ratusan anak tangga dengan bentar-bentar berhenti untuk menikmati pemandangan, kami pun sampai di ujung. Dan langsung kami bisa menikmati menyaksikan kawah Bromo dari jarak dekat dengan pembatas pagar besi. Untung pas kami berkunjung, situasi kawah sedang aman, jadi tidak sia-sia sudah terseok-seok melewati padang pasir berbisik. Diatas sini, suasananya sungguh ramai sekali, tak beda jauh dengan dibawah maupun disepanjang naik tangga.


image by Amd


image by Amd


image by Amd

***

Setelah turun dari melihat kawah, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Hingga kemudian kami memutuskan untuk turun, kembali ke bawah. Sesampainya dibawah kami bertemu dengan 4 teman si Okta, 2 cowok 2 cewek. Mereka mengatakan akan pergi dahulu karena akan melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Madakaripura. Mereka menawari kami jika ingin bergabung, namun kami menolak secara halus. Dikarenakan kami besok Senin masih ada kuliah dan tidak ingin kecapekan. Merekapun pamit berangkat duluan.


perjalanan balik ke bawah setelah mengunjungi kawah
image by Amd

Selang beberapa menit kami juga sudah mulai bersiap balik. Ketika melewati padang pasir berbisik, kami berhenti untuk mengambil foto. Cukup lama juga. Akhirnya setelah kami puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan. Seperti langit agak mengabu. Diujung sana mendung kelabu sedikit menggantung, jadi kami bergegas.


The picture of us
image by Amd

***

Well, perjalanan pulang kami awalnya tersendat. Apalagi ketika kami melewati jalanan menanjak setelah kawasan pasir berbisik. Motor kami sedikit kesulitan ketika naik ketas. Alhasil, lagi-lagi, kami para cowok memilih berjalan kaki, sedangkan para pria berusaha memacu motornya agar bisa melaju dijalanan menanjak tersebut. Sembari kami berjalan (terengah-engah pula), berkali-kali kami ditawari jasa ojek oleh bapak-bapak. Karena kami merasa masih mampu melewati ini, kami pun menolaknya secara halus. Sepertinya Bapaknya memang kekeuh sekali, ketika kami turun dari motor boncengan dan berjalan lagi ditanjakan, si Bapak kembali menawarkan jasa ojeknya. Akhirnya, setelah kami kepayahan berkali-kali naik motor lalu turun untuk jalan lagi, aku dan Duhita pun memutuskan untuk naik ojek saja. Untung sekali si Bapak ojeknya dengan setia ngikutin kita sehingga kita tidak kebingungan mencari ojek.

Hebat nih motor si Bapak ojek. Dengan mudahnya motor beliau melaju di jalan tanjakan. Salut! Dan ketika sampai diujung jalan yang beraspal, aku minta diturunkan. Aku memberikan upah Rp 30.000,- ke beliau. Karena memang segitu tadi harga yang kita sepakati. Tak lama si boncenganku dan boncengan Duhita pun sampai, kami kembali naik motor.

***

Akhirnya.. Perjalanan ke Bromo ini begitu menyenangkan sekali. Meskipun banyak tantangan yang harus ditempuh, namun tetap saja, nikmatnya tak terlupakan. Kami memang sempat kesasar ketika perjalanan pulang karena teman si Okta tadi juga sudah pamit duluan ‘kan, plus kami juga kena hujan. Untungnya kami membawa jas hujan. Dan alhamdulillah, sampai di kos dengan selamat tak kurang suatu apa. Melegakan sekali rasanya.

M.

Comments

Popular Posts