Bali Vacation in 5D4N (Accidentally)
Pernahkah kalian berniat pergi ke suatu tempat dengan tujuan X
yang sebelumnya sudah terencana baik lalu tiba-tiba karena sesuatu hal akhirnya
batal dan secara tidak sengaja malah menjadi liburan ?
Wah panjang juga ya pertanyaanku. Hmm, pasti beberapa dari kalian
pernah mengalaminya, sama halnya dengan yang aku alami. Terkadang awalnya sebal
juga ketika tujuan awal yang sudah pasti dan terencana malah batal. “Secara
tidak sengaja” malah menjadi liburan. Namun pada akhirnya kembali senang juga,
setelah sebelumnya down, berkat accidentally vacation perasaan
jadi up lagi. Nah kali ini aku mau bercerita mengenai
pengalamanku yang lumayan unpredictable ini.
***
Aku dan sahabat kuliahku, R, sebelum bulan Agustus kami berencana
untuk magang di sebuah hotel terkenal dan berbintang 4 di Ubud, Bali. Kami
sudah apply kesana dan sekitar awal Agustus kami dikabari oleh
pihak hotel bahwa kami diterima dan bisa mulai magang pada tanggal 9 Agustus.
Aku yang masih dikampung halaman merayakan sisa-sisa suasana Hari Raya Idul
Fitri, pada tanggal 4 Agustus segera balik ke Malang sembari membawa
barang-barang yang diperlukan untuk magang.
Kamis, 4 Agustus 2016
Sesampainya di Malang, kita mulai membuat daftar kesiapan apa saja
yang sekiranya penting, seperti dresscode magang (yang
ditentukan oleh pihak hotel) dan barang-barang yang sekiranya bisa patungan
berdua daripada menuh-menuhin koper. Selanjutnya membeli tiket bis. Setelah
mempertimbangkan dengan matang, akhirnya kami memutuskan untuk lebih baik naik
bis daripada pesawat. Well, you know, soal biaya lebih murah naik
bis. Selain itu, lokasi bandaranya juga lumayan jauh dibandingkan terminalnya.
Sehabis mengantarkan R makan, kami pun langsung berangkat ke
terminal Arjosari Malang untuk membeli tiket. Kami memilih bis dari PO Gunung
Harta, karena berdasarkan pengalaman si temannya R, harga dan
fasilitasnya worth it. Dan memang benar adanya.
***
Jum’at, 5 Agustus 2016
Jadwal berangkat bus kami pukul 17.30 WIB dan sebelum pukul
tersebut kami harus sudah stand-by di terminal. Alhasil berkat
perasaan kami yang terlalu excited dan deg-degan, jam 2 siang
menuju ke jam 4 terasa lama sekali. Kami berangkat bersama-sama dari kosku,
jadi sebelum jam 2 aku sudah menjemput R untuk kekosku. Sekitar pukul setengah
4 an, aku pun memesan taksi. Well, mengingat barang bawaan kami, 2
ransel dan 2 koper, jadi kami memutuskan untuk taksi. Kalau naik angkot ‘kan,
kasian ntar angkotnya bisa-bisa malah penuh dengan barang bawaan kita. Apalagi
rute angkot yang pasti muter-muter dan kami memikirkan pula waktu sampainya
kita di terminal.
Sekitar 10 menit kemudian, taksi pun datang. Segera kami pun
melaju menuju terminal Arjosari. Kita saat itu sudah berangan-angan “See you
2 month later, Malang ”. Hmm, terlalu mellow. Sekitar 25 menit
kemudian sampailah kami di terminal. Segera kami menuju tempat tunggu
kedatangan bis. Untuk menuju area tunggu letaknya lumayan butuh effort.
Jalan menuju ke tempat tunggu ada yang bertangga dan lantainya ada yang tidak
rata, sehingga berkali-kali kami harus mengangkat koper yang kami tarik demi
menghindari kerusakan rodanya.
Beberapa menit kami menunggu sambil duduk-duduk dan makan cemilan
serta sesekali mengecek jam. 10 menit sebelum pukul 17.30 kami pun menuju
pelataran kedatangan bis. Kami mendatangi seorang wanita yang kalau tidak salah
memegang tiket PO bis yang kami pesan. Dia memberitahu row yang
mana bisnya akan berhenti dan agar kita menunggu di bagian dalam
pelataran row saja.
Suasana langit kala itu yang awalnya mendung kelabu mulai sedikit
gelap. Dan beberapa menit kemudian hujan pun turun lumayan deras. Semua orang
yang berada dipelataran langsung berhamburan mencari tempat berteduh, beberapa
langsung lari ke dalam row kedatangan bis. Tampiasan hujan
cukup membuat kami khawatir karena mengenai koper kami. Namun kekhawatiran kita
segera sirna setelah melihat bis kami sudah datang. Namun ternyata di row yang
berbeda. Setelah memastikan ke wanita PO bis nya tadi bahwa bisnya benar yang
itu, kami mengangsurkan tiket ke wanita tersebut. Namun,petugas wanita tersebut
mengatakan dan memohon maaf karena sesuatu hal, seat yang
sebelumnya sudah kami pilih sudah ditempati. Dan kami ditawari seat yang
lain. Kami langsung menyetujuinya dan si wanita tersebut menuliskan tiket baru
untuk kami. Segera setelah itu, kami pun menaruh ransel dan koper, kecuali
ransel si R, ke bagasi bis yang dibantu oleh petugas bis tersebut. Kemudian
kami pun naik ke bis dan duduk di seat baru kami. It’s
completely comfy. Just for review, bisnya bersih. Nyaman.
Sejuk. Kursinya juga nyaman.
Sembari menunggu bis berangkat, kami ngobrol-ngobrol ringan. Di
luar suasana mulai gelap dan adzan maghrib sudah berkumandang. Hujan sudah
mulai mereda dan menyisakan rintik-rintik tipis. Kami berdua masing-masing
berdo’a dalam diam agar perjalanan kami dilancarkan dan diberikan keselamatan
sampai tujuan serta lancar dan dimudahkan magang kami. Sekitar pukul setengah
7, bis pun mulai berjalan pelan. Perlahan-lahan namun pasti meninggalkan
terminal Arjosari di belakang sana. Perjalanan jauh pun dimulai.
Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Mungkin kami terlalu
lelah, selain itu pikiran kami juga perlu istirahat. Sehingga sepanjang
perjalanan, aku lebih memilih tidur. Efek dari minum obat anti mabuk
perjalanan. Lagian aku juga bukan tipe penumpang yang suka banyak ngoceh ketika
perjalanan. Selain itu, kondisi perutku kalau diajak bepergian naik
transportasi umum agak sedikit ‘moody’.
***
Sabtu, 6 Agustus 2016
Aku lupa entah pukul berapa saat itu, bis yang kami tumpangi sudah
sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Setelah bis sudah berada di dalam
kapal, kami pun turun dan naik menuju tempat duduk penumpang di dek atas.
Dengan muka bantal, kami pun duduk bersama penumpang lainnya. Tempat duduknya
juga tak terlalu penuh. Ada yang lebih memilih berada diluar ruangan untuk
mencari angin atau sekedar memandang pekatnya suasana malam. Ada pula yang
sedang asyik makan mie hangat dari kantin. Di ruangan ini disediakan televisi
LCD dengan tontonan film untuk menemani para penumpang.
R pergi ketoilet. Sedangkan aku menunggunya sambil makan snack yang
dibagikan di dalam bis tadi. Honestly, ini pertama kalinya aku
naik kapal laut. LOL ! Itu kenyataan. Aku merasakan tubuhku sedikit
terayun-ayun karena kapal sudah berangkat. Untung mood perutku
sedang aman. Well, perjalanan menuju pelabuhan di Bali untungnya
tidak sampai berjam-jam lamanya. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya
naik kapal laut sampai berjam-jam.
Sekitar pukul setengah 5 an (kalau tidak salah), kapal pun bersandar. Sebelumnya seluruh penumpang sudah ready didalam bis, begitu juga dengan kami. Setelah pemeriksaan KTP para penumpang bis oleh petugas pelabuhan, para penumpang pun masuk kembali ke dalam bis.
***
Bali!
Perjalanan kami masih berlanjut. Masih lumayan jauh. Ketika melewati
desa yang jalannya lumayan berliku-liku, badmood perutku
sedikit kumat. Langsung aku minta Tolak Angin ke R dan aku mencoba untuk
terlelap tidur. Saat itu langit sudah terang, matahari pagi tampak tersenyum
ceria. Suasana khas Bali langsung terasa sekali. Orang-orang sudah beraktivitas
masing-masing.
Terminal tujuan kami adalah terminal Ubung. Sekitar pukul 8 pagi,
bis kami sudah sampai di terminal tersebut. Suasananya ramai sekali. Turun dari
bis kami langsung disambut para bapak-bapak yang menawarkan ojek, angkot, dan
jasa transportasi lainnya. Setelah kami mengambil barang-barang yang sudah
dikeluarkan dari bagasi bis, kami mencari tempat teduh. Tak berselang lama
setelah menelepon orang yang menjemput kami, orang yang menjemput kami nongol dari
kejauhan. Rupanya beliau sudah menunggu sebelum kami sampai. Sebut saja Pak
Adi. Penampilannya saat itu khas orang Bali. Memakai sarung dan udeng
dikepalanya. Bapaknya ramah dan baik sekali mau menyempatkan waktu untuk
menjemput kita.
Setelah menaruh koper dan ransel di bagasi mobil beliau,
perjalanan kami pun berlanjut menuju penginapan di Ubud dengan mobil pak Adi.
Kami sesekali bercakap-cakap dengan pak Adi. Sepanjang perjalanan aku lebih
banyak menikmati pemandangan diluar. Well, sudah lama tak ke Bali.
Perjalanan menuju Ubud memakan waktu hampir 1 jam an lebih. Ketika melewati
pasar Ubud, jalanan ramai sekali. Banyak turis berlalu-lalang, parkiran motor
dipinggir jalan, pengendara motor berlalu-lalang juga. Aku baru tahu ternyata diatas
pukul 9 jalanan pasar Ubud berubah menjadi 1 arah yaitu berlawanan arah dengan
arah penginapan kami. Makanya mobil yang kami tumpangi berbelok ke kiri, menuju
jalan lain. Perjalanan kami melewati Wisata Monkey Forest. Bukan
lagi hal yang aneh bila terkadang di pinggir jalan ada monyet-monyet
berkeliaran, sesekali menyapa para turis pejalan kaki.
Sekitar 15 menit kemudian, mobil berbelok ke sebuah penginapan.
Villa Sanggingan namanya. Disitulah kami akan menginap. Suasana khas Bali-nya
kental sekali. Khas Ubud, dengan ornamen-ornamen yang unik serta ukiran-ukiran
khas Bali. Kami disambut oleh bapak pengurus villa, maaf aku lupa nama
bapaknya, ada 2 orang soalnya. First impression aku, mereka
ramah dan baik sekali. Kemudian kami diantar ke kamar kami. Jadi villa ini, ada
yang tipe private juga ada macam tipe lainnya. Kebanyakan ditempatin oleh para
turis asing yang sudah berkeluarga atau sekedar mencari ketenangan. Kami sempat
bertegur sapa dengan turis yang sedang breakfast. Kolam renang juga
tersedia disini jika ada yang ingin berenang sekaligus bersantai dipadepokan
dekat kolam renang. Suasana villanya memang kental dengan suasana Ubud yang
sejuk dan nyaman. Khas pedesaan. Seolah-olah feels like home.
Setelah pak Adi pamit
kepada kami dan bapak penjaga villa, kami pun masuk kedalam room kami.
Tempat tidur yang nyaman menunggu. Kami menata koper kami dan mengeluarkan
barang-barang uang sekiranya tanpa perlu harus membongkar semua isi koper. Lalu
beristirahat sejenak didepan teras sebelum kami bersih-bersih diri alias mandi.
***
Nah fokus kita kali ini bukan membahas mengenai magangku, tapi
mengenai liburan accidentally ini.
Di hari pertama kami sampai, yaitu pada 6 Agustus 2016, siangnya
kami memutuskan untuk menyewa kendaraan motor. Untungnya diseberang jalan depan
villa kami ada tempat rental motor. Biaya sewa untuk satu hari
yaitu Rp 60.000,- dan sudah sepaket dengan 2 helm. Disepanjang jalan menuju
pasar Ubud juga banyak penyewaan motor, dan keseluruhan motornya bertipe matic. well,
semacam skuter. Lagian mudah juga tinggal ngegas motor pun jalan, daripada
motor yang berpesneling. Selain itu para turis asing juga lebih familiar
mengendarai kendaraan semacam matic/skuter dan kurang terbiasa dengan motor
berpesneling.
Kemudian kami membawa motor tersebut kembali ke villa karena kami
masih ingin istirahat. Siang atau sore ini kami berencana untuk menjelajahi
daerah Bisma dan sekitarnya. Beradaptasi. Layaknya aklimatisasi, kami juga
perlu menyesuaikan diri dengan suasana disini agar betah dan tahu lingkungan
sekitar. Tentu saja, untuk urusan arah jalan kami masih mengandalkan Google
Map.
Sekitar pukul setengah 1, kami pun berangkat. Tips: jangan lupa
pakai body lotion anti UV, karena di Ubud kalau siang suhunya
lumayan panas dan menyengat. Selain itu lebih baik kalian membawa air minum
mineral botol, terserah mau ukuran berapa liter. Disini kebanyakan para turis
asing lebih memilih jalan kaki untuk menuju ke pusat jantungnya Ubud. Ada
beberapa juga yang memilih naik motor, mungkin ingin sekalian menjelajahi lebih
jauh.
***
Sorenya, sekitar pukul 3-an, kami memilih untuk tidur.
Beristirahat dan mengistirahatkan tubuh. Pukul 5 alarmku berbunyi nyaring, mau
tidak mau akupun bangun. R ternyata sudah bangun terlebih dahulu. Aku mengecek
keadaan sekitar luar room dan ternyata langit sore masih
terang. Dan aku baru ingat, kalau Bali dan Jawa berbeda 1 jam. Disini pukul
setengah 6 lebih matahari masih bersinar terang.
Oya, fyi, room kami ini terdapat 2
single bed, 1 lemari es mini, 1 almari besar, 1 meja rias, 1 meja kecil, kamar mandi
besar lengkap dengan shower plus tempat wastafel dengan cermin besar, 1 kipas
angin di langit-langit, dan 2 lampu tidur. Sebuah jendela kaca besar panjang
berada didepan tempat tidur kami. Lumayan besar untuk ukuran room kami
ini. Karena juga diisi cuman 2 orang saja. Over all, nyaman sekali
disini.
Aku memutuskan untuk mandi karena tadi sepulang dari berkeliling
Bisma, aku belum mandi. Malamnya, sekitar pukul 7 an, kami pergi keluar untuk
mencari makan. Sebisa mungkin kami berhemat. Makanya kami berusaha mencari tempat
makan yang sekiranya murah dikantong kita.
Kalau dari villa kami, kami berjalan menuju ke arah kanan melewati Museum Neka. Kami lebih memilih jalan kaki karena
tidak mau repot harus parkir motor, sekaligus ingin lebih menikmati suasana
malam Ubud. Suasananya cukup ramai untuk ukuran pukul 7 malam. Ramenya tuh
dicafe dan tempat makan. Ada beberapa macam tempat yang cozy banget
buat bersantai bersama keluarga dengan ditemani makanan atau sekedar untuk
duduk-minum-nyantai. Daerah sekitar kami ini banyak sekali art gallery yang
menampilkan berbagai seni, mulai dari lukisan, ukiran, fotografi, kerajinan
kayu, dsbnya. Tak hanya itu, kalian yang mau perawatan kecantikan, disini juga
ada. Ada salon dan beauty care, yang mana melayani berbagai
perawatan diri, mulai dari hair treatment, spa, waxing, dsbnya.
Jadi tidak usah khawatir. Disini, disetiap tempat misal rumah makan, café, atau
salon, sebelum kalian memutuskan untuk singgah atau tidak, kalian bisa
melihat-lihat dulu pilihan menu+harga yang disediakan didepan tempat tersebut.
Sama halnya dengan yang ada di pusat jantung Ubud. Jadi bagi yang tidak mau
kecele dengan harganya, bisa dicoba. Baru setelah sekiranya cocok, kalian bisa
singgah dan pesan.
Ok, kembali ke urusan kita. Karena ini malam, dan kita tadi siang
belum sempat menjelajahi daerah sini, akhirnya kami memutuskan untuk makan di
tempat makan yang menyediakan menu nasi goreng dan lalapan. Ada beberapa spot
didaerah sini yang gelap dan sepi, tapi dijamin aman kok. Rumah makan kami ini
bersampingan langsung dengan salon, yang beberapa menit kemudian closed setelah
menangani seorang turis. Kemudian kami pun sama-sama memesan lalapan, bedanya
aku pilih lele sedangkan R pilih ayam, plus aku pesan es teh dan R pesan teh
hangat. Kami makan sambil sesekali berbincang-bincang dan menonton tayangan di
televisi. Tak lama, kami pun selesai. Setelah membayar kami pun langsung beranjak pergi. Well, udara di Ubud kalau menjelang pukul 8 keatas lumayan
dingin. Hampir sama mungkin seperti kota Batu. Sesekali angin berhembus pelan.
Tapi mungkin kalau bagi para turis asing, suhu udara semacam begini tidak
seberapa Karena mereka sudah terbiasa dengan musim panas dan musim
dingin di negara asalnya. Jadi tidak heran dimalam hari begini ada yang hanya
memakai bralette.
Sebelum kembali ke villa, kami memutuskan untuk pergi ke
minimarket yang berada diarah sebelah kiri dari villa kami. Tidak terlalu jauh,
juga tidak terlalu dekat. Di minimarket kami membeli beberapa persediaan
minuman dan beberapa camilan serta buah. Setelah itu, kami berjalan kembali
menyusuri trotoar jalan pulang, untuk kembali ke villa kami.
***
Minggu, 7 Agustus 2016
Ini adalah hari kedua kami di Bali. Pagi pertama kami dikasur
empuk a la suasana pagi Ubud. Sungguh nyaman sekali, sampai-sampai malas untuk
bangun.
Hari ini kami berencana untuk jalan-jalan ke jantung Ubud. Dengan
berjalan kaki tentunya. Sehabis bangun tidur kami masih sempatkan untuk
berleyeh-leyeh ria diteras room sambil menikmati pemandangan
sekitar dalam villa. Kemudian kami mulai mandi satu per satu. Sambil
bersenandung ria menikmati alunan mp3ku, aku memasukkan botol air mineral ke
tas selempangku.
***
Sekitar pukul setengah 1 siang, kami sudah berjalan menyusuri
trotoar untuk menuju ke pusat Ubud. Melewati trotoar di sepanjang jalan
Raya Campuan hingga ke jalan Raya Ubud.
Setelah melewati jalan tanjakan, keramaian pusat Ubud sudah terasa sekali. Bahkan
jalanan tanjakan tersebut ramai sekali tak hanya yang berkendara, namun juga ramai
yang berjalan kaki. Ditambah pula biasanya ada mobil penyewaan yang parkir
dibahu jalan. Terkadang (entah sering mungkin) jalanan tanjakan ini bisa
menjadi sangat ramai sekali bahkan padat merayap. Jadi kalau cuma mau ke pusat
Ubud dan sekitarnya, lebih baik berjalan kaki saja. It's okay kalau
mau bawa motor, lagian di daerah pusat Ubud ini parkir tidak dikenai biaya sama
sekali (sepengetahuanku). Kecuali saat kami berkunjung ke pasar Ubud,
baru dikenai biaya soalnya ada penjaga parkirnya dan masih pagi pula. Ingat,
asalkan parkir kalian tidak sembarangan, bisa-bisa digembosin sama polisi lalu
lintas.
Kita berjalan dengan santai sambil melihat-lihat toko-toko yang
berjajar dilajur kiri jalan. Ada yang menawarkan pernak-pernik etnik khas Bali,
baju, dress, kamisol, jumpsuit, kerajinan tangan,
dsbnya. Disela-sela toko-toko tersebut ada beberapa yang terdapat café atau
rumah makan, ada yang kecil juga ada yang besar.
Kami tetap melanjutkan perjalanan kaki kami sampai bertemu
perempatan, kami memilih belok kiri karena kami ingin tahu juga daerah sebelah
sini (jalan Suweta). Ada beberapa pondok dipinggir jalan yang menyediakan
informasi wisata kepada para turis. Sama halnya juga di pusat Ubud maupun
disekitar Sanggingan. Suasana didaerah ini tidak terlalu ramai saat kami berada
disana, namun juga terdapat beberapa café, rumah makan, pura, dan penginapan.
Akhirnya kami memilih untuk kembali lagi hingga sampai
diperempatan. Nah beberapa meter dari perempatan ini ada pasar Ubud. RAMAI
SEKALI, meskipun suasana sudah terik dan menyengat. Mungkin karena hari Minggu. Kami masuk kedalam pasar untuk sekedar melihat-lihat. Banyak sekali
pernak-pernik khas Bali yang dijual disini. Ada sabun tradisional beraroma
bunga khas Bali, parfum, tas, kerajinan tangan, topi, baju, kaos, short/long-dress,
dupa, lilin aroma terapi, dan masih banyak lagi. Sampai bingung deh mau beli
apa. Kami memutuskan untuk shopping di lain hari saja,
daripada uang habis diawal.
Lalu kami beralih ke sisi kanan sejalur dengan pasar Ubud,
berbelok ke kiri ke jalan kecil semacam gang. Meskipun jalannya tidak
selebar jalan utama, disepanjang kanan kiri jalan banyak sekali kita temui
cafe, rumah makan, tempat spa, penginapan, toko pernak pernik, dan sebagainya.
Pokoknya puas sekali kalau mau belanja di pusat Ubud. Asalkan pintar-pintar
mengelola isi dompet.
Kami pun berjalan kembali menyusuri trotoar pusat Ubud, menuju
kembali ke villa. Fyi, disini banyak sekali jasa taksi, namun
bukan taksi biasa, taksi ini menggunakan mobil pribadi semacam mobil tipe
Avanza dan semacamnya. Bahkan hampir tidak ditemukan taksi umum seperti yang
biasanya kita temui dikota lain. Seringkali kami menemui turis asing sedang
bernego harga dengan si supir. Memang harus pintar-pintar bernego harga kalau
tidak mau kena harga tinggi. Tak cuman untuk masalah jasa taksi, tapi juga
untuk pembelian ditoko-toko yang tidak terbandrol harganya (price untagged)
dan masih bisa ditawar. Bahkan kalau dipasar, bila kalian ahli bernego harga,
bisa jadi harga murah akan didapat.
Setelah sampai didaerah Sanggingan, kami memutuskan untuk mencari
tempat makan siang. Kami melewati villa kami untuk kembali menelusuri daerah
sekitar warung nasi goreng kemarin, siapa tau ada tempat makan murah. Alhasil,
didepan seberang COMO Uma Ubud, tempatnya sebelum warung nasi goreng, kami
menemukan toko grosir sekaligus buka tempat makan. Kami pun akhirnya memilih
makan disitu, karena perut sudah keroncongan berat. Karena tadi pagi, perut
hanya diisi roti dalam jumlah banyak.
Selesai makan, kami kembali ke villa untuk istirahat. Well,
kalau dihitung-hitung rute jalan kami ini sudah seperti jalan kaki mengelilingi
lapangan sepak bola ukuran besar. Bagi cewek macam kami yang suka jalan
kaki, it’s okay. Capeknya tidak terasa, mungkin kaki hanya terasa
melepuh. Sesampainya di villa, kami memilih untuk duduk-duduk didalam kamar,
sambil bersandar badan tempat tidur, dengan pintu room terbuka,
kami menonton film melalui laptop. Sambil ngemil makanan dan berkali-kali
minum.
***
Sehabis mandi sore, aku merasa tenggorokanku seperti panas dalam
dan aku berkali-kali bersin. Ini yang aku khawatirkan. Sakit diperantauan.
Kalau ditilik kebelakang, rasanya aku belum sama sekali menyentuh es dalam
bentuk apapun. Aku berpikir mungkin karena efek kecapaian dan stress pikiran.
Malamnya aku tidur dengan hidung setengah tersumbat. Kadang miring kanan,
kadang miring kiri. Nggak nyaman sekali. Sampai-sampai tisu villa aku stand-by in
dimeja samping tempat tidurku. Sore sebelumnya aku sudah meminta R untuk
menemaniku membeli obat sambil mencari makan malam sekalian. Sebelum tidur aku
minum. Esok paginya tenggorokanku sedikit mereda dan hidungku masih sedikit
tersumbat.
Senin, 8 Agustus 2016
Untuk hari ini, sepertinya kami lebih memilih untuk bermalas-malasan
di villa. Menghabiskan waktu untuk ngemil berat dan menonton film di laptop
setelah paginya makan seperti biasa ditempat makan yang didepan seberang COMO
Uma Ubud.
***
Selasa, 9 Agustus 2016
Bersin-bersinku masih berlanjut dan aku merasa demam. Cukup
kesusahan ketika tidur malam, aku harus siap sedia tissue dan harus meninggikan
bantalku agar hidungku tidak tersumbat. Tak lupa aku meminum obat sebelum
tidur.
Hari ini aku moody sekali. Setelah saling bercakap sedikit, kita memutuskan untuk pulang besoknya, hari Rabu. Hari ini kami mau menjual kembali sepeda yang dibeli R pada hari Minggu pagi. Sebelumnya di hari Minggu kemarin sebelum kami berjalan-jalan ke pusat Ubud, aku mengantarkan R untuk membeli sepeda lipat yang sekiranya dipakai untuk transportasi magang dia. Demi mencari toko penjual sepeda, kami sampai nyasar hingga masuk jauh melewati jalan Gunung Sari. Bahkan kami sempat khawatir nyasar gak jelas, karena jalanannya menanjak dan berliku. Dan kanan kiri penuh hehijauan. Cukup terasa dingin didaerah sini. Sampai akhirnya kami keluar dari jalan Gunung Sari dan menyusuri jalan utama bernama jalan Cok Gede Rai, melewati Peliatan Palace, disisi kanan jalan akhirnya kami menemukan toko penjual sepeda. Sehabis membeli sepeda, kami sempatkan mampir makan bakso dan mie ayam didepan seberang Peliatan Palace.
Nah, karena ternyata batal magang, sepeda lebih baik dijual
kembali. Akhirnya setelah menelepon si toko sepedanya untuk menanyakan apakah
boleh dijual lagi ketokonya, dan ternyata boleh dengan syarat dipotong Rp
50.000,- dari harga pembelian kemarin yaitu Rp 600.000,-.
Setelah mandi dan siap-siap, pukul 10 kami berangkat ke toko
sepeda. Cukup repot juga membawa sepeda lipat. Setelah sepeda terjual dan uang
diterima, sambil berkendara motor hari ini kami putuskan untuk membeli tiket
bis untuk kepulangan besok, plus, kemana lagi kalau bukan ke Kuta. Sebelum
melakukan itu semua, kami mencari tempat makan pagi, dan akhirnya setelah
menyusuri jalan Raya Sanggingan hingga jalan Raya Lungsiakan, kami menemukan
tempat makan yang menyediakan siomay dan gado-gado.
Tak disangka, ternyata ibu pemilik tempat makan ini adalah orang
Jawa. Kebetulan pula, beliau juga memiliki keluarga di Malang. Alhasil
terkadang kami saling berbincang dalam bahasa Jawa. Oya, disini kami sama-sama
memesan siomay dan teh hangat. Sebenarnya menunya tidak hanya siomay dan
gado-gado, ada juga soto dan berbagai lauk-pauk lainnya juga tersedia.
Sehabis makan, kami kembali ke villa. Bersiap-siap untuk 2 hal
tadi. Beli tiket dan pergi ke Kuta. Aku merasa senang sekali, hingga tak terasa
kalau sedang sakit. Meskipun demamku masih terasa sedikit. Ok, barang bawaan
kita tidak terlalu banyak. Baju ganti luar dan dalam, minuman botol, lotion,
handuk kecil, camilan, sunglasses, dan semacam itulah kalau mau ke
pantai. Cukup membawa ransel ukuran sedang.
Lokasi tempat beli tiket bisnya lumayan jauh (apalagi pantainya).
Karena langsung ke biro pusat PO-nya di daerah Tabanan. Bisa dibayanginkan
gimana kita yang dari Ubud, keluar Ubud, untuk menuju ke Denpasar. Apalagi kami
juga buta arah, alhasil si Google Map pun beraksi.
***
Setelah melewati berbagai nama jalan dengan Map, akhirnya kami pun
sampai di tempat pembelian tiket. Karena membeli tiketnya langsung di pusatnya,
jadi kami mendapatkan tempat dibarisan bagian depan dan harganya pas kami beli
saat itu yaitu Rp 220.000,-. Sudah termasuk makan malam dan snack.
Misi membeli tiket done. Kita pun melanjutkan
perjalanan kami menuju ke Kuta. Disini kesabaran kami diuji. Suatu ketika (aku
lupa nama jalannya), kami harus putar balik sebanyak 3x gara-gara salah milih
jalan. Terkadang pula kami salah ambil belokan dan harus putar balik hingga 2x.
Meskipun sudah memakai Google Map, terkadang di realitanya berbeda dengan yang
ada di peta. Berkali-kali kami tertawa menyadari ketidaktahuan kami. Well,
but it was super fun. Meskipun saat itu suhu siang harinya panas
sekali, tidak membuat kami pantang menyerah. Hingga kami melihat plang
tanda bertuliskan arah ke pantai Kuta, kami pun memilih jalur tersebut.
Kemudian kami kembali berkutat dengan banyak belokan jalan, sembari R
mencocokkan juga dengan yang di Google Map.
Dan setelah melewati berbagai jalan-jalan kecil, yang ramai
sekali, akhirnya kami sampai di jalan Pantai Kuta yang berhadapan dengan pantai
Kuta. Senangnya kami ketika melihat pantai dibalik gapura masuk pantai. Nah,
disepanjang pinggir jalan pantai Kuta ini disediakan tempat parkir berbayar dan
ada penjaganya. Kami pun memilih parkir di dekat pos polisi dan tepat
diseberang jalan kami parkir adalah Hard Rock Hotel. Karena masih siang, sekitar
pukul 2, suasana disini ramai sekali.
Setelah memarkirkan motor, kami pun berjalan menyusuri trotoar
untuk menuju ke gapura masuk yang kami lewatin tadi. Dari gapura ini kami
memilih belok kiri untuk mencari spot yang tidak terlalu
ramai. Kami pun berjalan sampai ujung hingga kami menemukan spot yang
pas untuk kami. Kami menaruh tas kami
diatas pasir tak jauh dari kami bermain air. Bodohnya kami, tak memakai sunscreen atau sunblock. Alhasil, baru kejebur air dan cukup lama kena
sinar matahari, wajah kami lumayan jadi coklat gelap.
Lama juga kami berasyik-ria, sampai tak terasa sudah hampir pukul
setengah 5. Angin pantai sedikit membuat aku kedinginan. Untung didekat spot ada
kamar mandi ganti. Cukup Rp 3.000,- udah bisa membilas diri dan ganti pakaian.
Sembari menunggu giliran R berganti pakaian kering sekaligus menjaga tas kami,
cukup lama aku berada dibawah pancuran air sambil membilas rambutku dari busa
shampoo. Aku baru menyadari, kedua lututku ada beberapa carutan luka, aku pikir
karena tadi jatuh akibat ombak dan terkena karang-karang kecil yang terbawa
arus. Setelah R selesai ganti, sekarang giliranku.
Perjalanan kami untuk menuju jalan raya besar cukup sulit.
Berkali-kali kami harus berhenti karena kemacetan yang ada. Setelah kami berada
dijalur jalan besar, kami memutuskan untuk membeli makan. McDonald menjadi
pilihan kami. Daripada susah-susah nyari tempat makan atau café. Sebelum ke McD
kami mampir ke pom bensin dulu untuk ngisi energi motor kami.
Pukul setengah 6 kami baru keluar dari McD. Suasananya masih
terang sekali. Sinar matahari diujung sana masih terasa meskipun suhunya tidak
sepanas tadi siang. Perjalanan kembali ke Ubud pun dimulai. Perlahan-lahan
seiring dengan perjalanan kami, suasana senja mulai terasa. Bagi aku yang
jarang bepergian jauh naik motor ketika malam hari dan nyetir, rasanyaaa…well, super
my very first time. Kewaspadaan perlu ditingkatkan karena berbeda
suasananya dengan siang hari. Apalagi aku yang tidak tahu jalan, kudu siap
belok ketika R mengomando arah jalan. Fyi, jangan lupa, bagi kalian
yang berniat sewa motor untuk perjalanan jauh, selalu tanyakan kondisi motor
pada pemilik rental, apakah bagus untuk dibuat berkendara jauh. Jangan sampai
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untungnya motor yang kami sewa tidak
rewel sama sekali.
Ada saatnya pula ketika kami tidak yakin dengan jalan yang kami
lewati pas berangkat tadi, yaitu ketika melewati jalan yang seperti memasuki
hutan. Turned out, jalanan tersebut menghubungkan ke pedesaan lain.
Legalah kami. Meskipun banyak kendaraan yang lewat, namun kami hanya merasa
khawatir saja, siapa tahu peta-nya salah arah.
***
Sekitar pukul 7 malam.
Ketika kami melewati jalan Raya Lungsiakan, lega sekali rasanya.
Misi kami untuk naik motor ke Kuta akhirnya completed. Pengalaman
pertamaku bepergian jauh naik motor diluar pulau Jawa. Sebelum kembali ke
villa, kami mampir di minimarket untuk membeli beberapa misil untuk energi
nantinya. Roti, buah-buahan, minuman, snack, semuanya masuk ke
kantong kresek kami.
Akhirnya kami pun sampai villa kita. Aku baru menyadari ketika
berdiam diri istirahat, demamku sepertinya agak meninggi. Sepertinya efek dari
angin dingin sepanjang perjalanan tadi dan aku tak membawa jaket ataupun
setidaknya masker/sweater/kardigan/baju yang tebal. Namun hari ini, karena
terlalu overexcited jadi tidak terasa sama sekali. Untuk
merayakan kesenangan hari ini dan malam terakhir di Ubud, aku menawari
traktiran minuman untuk R. Siapa tahu dia keberatan karena terlalu capek,
ternyata dia menerima ajakanku.
Setelah mandi dan makan roti, beristirahat cukup lama, sekitar
pukul 9 malam kamipun beranjak pergi dengan menaiki motor kami menyusuri jalan.
Dingin sekali. Suasana jalan lumayan ramai dan tidak sepi-sepi banget. Setelah
kami muter-muter sampai melewati wisata Monkey Forest, akhirnya dipinggir
jalanan yang menanjak (jalan Monkey Forest), kami menemukan 1 tempat yang
menurut kami cocok dan harganya pas dikantong kita. Namanya Kopi Bali House
Ubud.
Aku memesan 1 coklat panas dan R pesan minuman yang aku lupa
namanya. Karena udara Ubud yang dingin dimalam hari, alhasil hidungku sedikit
mampet akibat efek flu-ku yang belum sembuh. Lama kami ngobrol hingga 2
pengunjung diluar café beranjak pergi dan tinggal kami. Setelah menghabiskan
minuman dan membayar bill , kami pun beranjak dari café.
Sambil memberi salam hangat terima kasih untuk kami, tak selang lama kami
menaiki motor, café beberes untuk tutup. Sepertinya kami pengunjung terakhir
sebagai penutup.
Suasananya di daerah sini lumayan sepi kalau sudah jam 10 an malam, hanya beberapa saja yang buka. Setelah jalan tanjakan, banyak sekali café dan rumah makan yang buka plus penuh dengan para turis. Santai sambil menikmati live music. Meskipun tidak seramai ketika siang hari, suasananya masih tetap hidup. Kami memutuskan untuk kembali ke villa. Karena udara dingin, aku memilih untuk berkendara pelan. Apalagi hidungku yang agak mampet. Jadi, perlu dikondisikan. Saatnya untuk beristirahat.
***
Rabu, 10 Agustus 2016
Today is the day kita akan balik ke
pulau Jawa. Home.
Pagi harinya kami masih ingin keluyuran untuk membeli oleh-oleh
dengan menaiki motor. Kemarin saat kita di Kuta sekalian ke Denpasar, kita
mengurungkan niat untuk membeli pai susu khas Bali. Kami pikir di Ubud pasti
ada. Ternyata hari ini setelah kami berkeliling ke pasar, tidak ada yang
menjualnya (Atau mungkin kami yang tidak tau ya). Kami pun berencana nanti
mencoba cari di swalayan Delta Dewata, siapa tau ada. Karena pai susu dipasar
tidak ada, beli oleh-oleh kain khas Bali pun jadi. Celana panjang, daster, shorts. Tak
hanya itu, kami menjelajahi pasar lebih dalam. Aku sedang jatuh cinta dengan
wewangian khas Bali. Memberikan efek relaks. Alhasil kami pun ingin sekali
untuk membeli sabun, parfum, dan dupa/lilin aromaterapi dengan wangi
tradisional khas Bali. Meskipun akhirnya yang kami beli cuma sabunnya saja.
Setelah puas membeli banyak barang dipasar (terutama aku), kita
pun masih berjuang mencari pai susu. Kami pun melaju keluar dari jalan Raya
Ubud menuju Delta Dewata, berada di jalan Raya Andong. Ternyata setelah kami
berkeliling sampai geli mata karena ingin beli banyak oleh-oleh (that's me,
haha), kami tidak menemukan pai susu. Sebenarnya yang mencari pai susu
adalah si R. Akhirnya R memilih snack lain sebagai pengganti
oleh-oleh pai Susu. Semacam coklat khas Bali.
Sepulang dari Delta, kami mampir ke swalayan Bintang di jalan Raya
Campuan, dekat dengan Sanggingan. Masih dengan misi mencari pai susu. Ternyata
tidak ada juga disini. Oleh-oleh lain pun menjadi penggantinya. Aku membeli
kacang disko dan kacang mente, sedangkan R membeli kacang disko juga dan
oleh-oleh lainnya. Semoga saja koper kita cukup menampung semua oleh-oleh ini.
***
Sama seperti waktu kami berangkat dari Jawa dulu, jam
keberangkatan bis kami adalah pukul setengah 6 sore. Untuk menuju ke Denpasar,
tempat kita beli tiket bis kemarin, kita berencana untuk naik taksi. Karena
kami takut dipatok harga tinggi, kami pun berniat minta tolong ke pak penjaga
villa kami untuk minta ditawarkan harga. Tak disangka, oleh beliau kami malah
ditawari untuk diantarkan pakai mobil (entah, aku kurang paham itu mobil villa
atau mobil pribadi bapaknya si penjaga). Dengan senang hati kami pun menerima
tawaran beliau.
Kami pun diantar dengan mobil menuju tempat pemberangkatan bis
kami di daerah Tabanan. Karena perjalanan menuju Tabanan lumayan jauh, plus
kena macet juga, aku lebih memilih mengistirahatkan diri dengan memejamkan
mata. Sepertinya kali ini demamku makin meninggi. Sedikit mual dan kepalaku
agak berat. Sekitar 1 jam kemudian, kami pun sampai di PO bis kami. Sambil
menunggu kedatangan bis, kami duduk-duduk dikursi di depan kantor PO. Rasa
lapar pun menyerang kami. Kebetulan R melihat ada tukang sate lewat dan dia pun
beranjak memesankan untuk kami berdua, sedangkan aku menunggui barang bawaan
kami.
Tak selang lama, pesanan sate kamipun datang diantar oleh abang
tukang satenya. Kebetulan aku kelaparan sekali. Fyi, harga satenya
murah sekali. Seporsi sate plus lontong setengah, cuman Rp 10.000,-. Worth
it. Sehabis makan kami duduk-duduk sambil melihat-lihat sekeliling.
Kebetulan dihalaman depan kami ini ada bertumpuk-tumpuk keranjang berisi buah
strawberry. Apalagi ada petugas wanita yang berbincang-bincang dengan pemilik
barang tersebut sambil sesekali nyomotin strawberry dari keranjang yang
tutupnya bisa dibuka sedikit. Kami pun ditawari oleh wanita tersebut, dan
kita….maunya sih nolak. Sungkan juga. Akhirnya karena dipaksa secara halus oleh
wanita tersebut kami pun menerimanya.
***
Cukup lama juga kami nunggu kedatangan bis kami. Hingga akhirnya
sekitar pukul 6 lebih sedikit, bus yang kami tumpangi pun datang. Setelah
dibantu menaruh barang dibagasi sama pak kondektur, kami pun naik dan menempati
posisi tempat duduk yang sudah kami pesan. Super cozy.
Oke, tak banyak cerita ketika kami perjalanan, aku lebih memilih
tidur, tidur, dan tidur. Efek demam plus kelelahan. Sampai-sampai mau turun
dari bis untuk pergi ke dek kapal dan makan malam di Jawa, rasanya malas sekali
untuk bangun.
Perjalanan bis kami, bisa dikatakan, cepat sekali dibandingkan
ketika pas berangkat ke Bali dulu. Kami yang menduga akan sampai diterminal
Arjosari Malang pas shubuh, ternyata pukul setengah 4 pagi sudah sampai
terminal. Akhirnya kami pun menunggu hingga pukul 5 atau waktu Shubuh di tempat
tunggu duduk di terminal. Kalaupun memaksakan pulang, kos kami jam setengah 4
pagi juga belum dibuka gerbangnya. Sambil terkantuk-kantuk dan menahan dingin,
kami menunggu sampai pukul 5.
***
Well, that was my experience. Ada suka dukanya. Satu
hal yang tidak kita lakukan saat di Ubud adalah berfoto-foto atau selfie. Kami
sama sekali tak mengambil gambar berbagai keasyikan kami. That's the
truth. No lies. Itulah mengapa di ceritaku ini semua
fotonya dari sumber lain. Mungkin, kami terlalu asyik menikmati suasana Ubud.
Setidaknya meskipun liburan ini bisa dikatakan dadakan, pikiran kami
menjadi refresh dan moodbooster menjadi naik
ketika tiba di Malang.
Bakal merindukan Bali lagi. Terutama Ubud. Such a
beautiful place to visit and stay longer. Terima kasih sudah mau membaca
ceritaku. Salam hangat.
M.




Comments